Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dibiayai Pemerintahnya, Masjid-masjid di China Bersolek Jelang Idul Fitri

Senin, 17 Mei 2021 07:08 WIB
Kegiatan Ramadan di China. (Foto: KBRI Beijing)
Kegiatan Ramadan di China. (Foto: KBRI Beijing)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada tradisi unik umat muslim di China saat hendak menyambut Idul Fitri. Menjelang lebaran, masjid-masjid di sana dibersihkan dan dirapikan. Bahkan, ada beberapa masjid yang sampai dicat ulang.

Memang buat apa sih masjid-masjid ini bersolek? "Supaya menarik jemaah untuk datang dan menjalankan ibadah di sana, termasuk shalat Id," ujar Duta Besar RI untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, dalam talk show RM.id bertajuk "Mengintip Idul Fitri di Negeri Tirai Bambu", Minggu (16/5) malam.

Yang menarik, biaya untuk membersihkan dan merapikan masjid itu berasal dari pemerintah China. Ditambah, dari dana operasional masjid tersebut. "Pemerintah juga memberi penghasilan bagi imam-imam yang ada di masjid-masjid tersebut," ungkapnya.

Djauhari membeberkan, pemerintah China memang memberi keleluasaan ruang dan waktu bagi umat muslim untuk menjalankan aktivitas.

"Bahkan di daerah-daerah yang banyak muslimnya, diberikan libur selama tiga hari bagi para pekerja muslim untuk merayakan Idul Fitri," terang eks Dubes RI untuk Rusia ini.

Dalam masa pandemi ini, seluruh masjid di China yang berjumlah sekitar 42 ribu sudah dibuka untuk shalat Id. Tapi ada beberapa protokol yang harus dijalani jemaah. Salah satunya, pengecekan aplikasi health kit (HK) setiap jemaah.

Berita Terkait : Covid Terkendali, Umat Islam di China Rayakan Idul Fitri dengan Meriah

Aplikasi ini merupakan elemen penting untuk bepergian ke tempat umum. HK juga merupakan monitor pergerakan diri dan catatan tidak berada di wilayah "merah".

"Semua warga wajib punya (aplikasi HK) di ponselnya dengan mendaftarkan nomor ID dan nomer HP," imbuh Djauhari.

Semua tempat umum, punya barcode khas yang harus di-scan ponsel dengan aplikasi HK. Aplikasi ini akan memudahkan untuk melakukan social tracing jika ada infeksi Covid-19 lokal baru.

Jika tanda di aplikasi HK berwarna hijau, maka seseorang diperbolehkan masuk. Tidak perlu protokol kesehatan lain.

Dari foto-foto yang dibagikan Djauhari, baik di masjid maupun KBRI Beijing, jemaah yang menjalankan shalat Id tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak.

Selain itu, pada bulan Ramadan, masjid-masjid ini juga menggelar shalat tarawih. Djauhari mengungkapkan, dalam sehari, rata-rata 500 hingga 700 orang jemaah mengikuti ibadah tersebut. "Dan dari hari ke hari semakin bertambah," ungkapnya.

Berita Terkait : Istimewanya Lebaran di Ukraina, Dubes Yuddy Safari Idul Fitri

Terbanyak, ada di masjid terbesar di Beijing, Masjid Niujie. Jemaah di masjid yang sudah berdiri lebih dari 1.000 tahun itu, bisa mencapai 1.000 orang.

Selain itu, ditambahkan Djauhari, masjid-masjid di China juga menggelar buka puasa bersama. "Masjid-masjid di sini memiliki dapur khusus untuk menyiapkan makanan buat iftar (buka puasa)," ungkap Djauhari.

Makanan yang biasa disajikan antara lain aneka bolu, roti berisi daging sapi cincang, bubur kacang merah, semangka, dan kurma China yang ukurannya lebih besar dari kurma Timur Tengah.

Yang menarik, Djauhari menceritakan tradisi iftar di Masjid Niujie, yang tidak ditemukan di masjid-masjid lain negara itu.

"Jadi sebelum penyelenggaraan iftar semua jemaah berkumpul di halaman masjid. Kemudian, seorang Ustaz memberikan ceramah. Ketika waktu iftar, mereka makan bersama di pelataran masjid. Jemaah bawa makanan masing-masing, jadi bisa share (berbagi)," kisahnya.

Dituturkannya, bulan Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim semi. Maka, umat muslim di sana berpuasa lebih lama, yakni antara 14,5 jam hingga 15,5 jam.

Berita Terkait : Ini Kesiapan Pemerintah Dalam Penanganan Covid Jelang, Selama, Dan Setelah Idul Fitri 2021

Yang pasti, kondisi Ramadan dan Idul Fitri ini jauh berbeda dengan tahun lalu. "Tahun lalu sepi. Tahun ini jauh lebih bagus," tutur Djauhari.

Tidak perlu heran kenapa perayaan Idul Fitri di China kini lebih longgar. Soalnya, negeri pimpinan Xi Jinping itu kini sudah berhasil mengendalikan Covid-19.  Kasus terkonfirmasi Covid-19 hingga Minggu (16/5), cuma tinggal 514. [JAR]