Dewan Pers

Dark/Light Mode

Korut Terusik Latihan Militer Korsel Dan AS

Rabu, 11 Agustus 2021 07:19 WIB
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam. (Foto : Jorge Silva/Pool Photo via AP, File).
Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam. (Foto : Jorge Silva/Pool Photo via AP, File).

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana latihan militer gabungan (latgab) Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) pekan ini mengusik ketenangan Korea Utara (Korut). Korut melon­tarkan ancaman.

Kali ini, melalui Kim Yo-jong. Saudara perempuan pemimpin Korut Kim Jong-un. Yo-jong bilang, Korsel akan menghadapi ancaman lebih be­sar jika latihan itu tetap berjalan.

Korsel dan AS sudah memulai latihan pendahuluan, Selasa (10/8). Targetnya, latihan simulasi komputer yang dijadwalkan berlangsung pe­kan depan. Korut, salah satu negara yang memiliki senjata nuklir memperingatkan, latihan itu akan menghambat kemajuan dalam meningkat­kan hubungan antar-Korea.

Berita Terkait : Produk Pertahanan Bersertifikasi TKDN Go ASEAN

“Latihan itu adalah tindakan yang tidak diinginkan dan merusak diri sendiri. Yang mengancam rakyat Korut dan meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea,” kata Yo-jong, yang dilansir Kantor Ber­ita Korut Korea Central News Agency (KCNA), kemarin.

Dia menegaskan, AS dan Korsel akan menghadapi ancaman keamanan yang lebih serius. Karena menurutnya, kedua negara telah sengaja mengabaikan peringatan beru­lang dilakukan Korut. Dia juga menuduh Korsel melaku­kan tindakan berbahaya.

Salah satu ancaman yang dilontarkan, yakni Korut akan menggagalkan upaya Presiden Korsel Moon Jae-in untuk membuka kembali kantor penghubung bersama. Kantor tersebut diledakkan Korut tahun lalu. Korut juga akan menolak mengadakan perte­muan puncak sebagai bagian upaya memulihkan hubungan.

Berita Terkait : Bank Mandiri Perkuat Layanan Digital Keuangan ITB

Yo-jong menambahkan, tindakan militer AS menunjukkan, pembicaraan Washington tentang diplomasi adalah kedok munafik untuk melaku­kan agresi di semenanjung. Menurutnya, perdamaian han­ya akan terjadi jika AS mem­bongkar kekuatan militernya di Selatan. Dia mengklaim, pihaknya akan meningkatkan pencegahan total. Termasuk kemampuan menangkal se­rangan.

Juru Bicara Departemen Pertahanan AS Martin Meiners menolak mengomentari pernyataan Korut. Karena menurutnya, itu bertentangan dengan kebijakan. Kata dia, kegiatan latihan gabungan adalah keputusan bilateral Korsel dan AS. “Dan keputusan apa pun akan menjadi kesepakatan bersama,” katanya.

Sementara Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan menolak mengomentari latihan pendahuluan selama briefing kemarin. Dia mengatakan, kedua negara masih membahas waktu, skala dan metode latihan reguler.

Berita Terkait : KSP: Kota Palu Butuh Penguatan Fasilitas Kesehatan

Sebagai informasi, AS menempatkan sekitar 28.500 ten­tara di Korsel. Kebijakan ini merupakan warisan Perang Ko­rea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata. [PYB]