Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Rakyat Pyongyang Kelaparan
Rusia Dan China Desak PBB Cabut Sanksi Korut
Rabu, 3 November 2021 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pasokan makanan di Korea Utara (Korut) yang makin menipis membuat Rusia dan China merasa kasihan. Sekutu dekat negara komunis itu pun membujuk Dewan Keamanan (DK) PBB agar mencabut beberapa sanksi terhadap Korut.
Kedua negara itu mendesak agar larangan ekspor patung, makanan laut dan tekstil dari Korea Utara yang berlaku sejak 2019, dicabut. China dan Rusia juga meminta agar Pyongyang diizinkan mengimpor minyak olahan.
Baca juga : Ingin Anaknya Ketularan Sukses, Ibu Hamil Ini Minta Sandi Elus Perutnya
Dalam rancangan resolusi yang direvisi, China dan Rusia mendesak DK PBB yang beranggotakan 15 negara itu mencabut sanksi-sanksi terhadap Korut. Pencabutan sanksi penting untuk meningkatkan mata pencaharian penduduk sipil di negara Asia yang terisolasi tersebut.
Korut telah dijatuhi sanksi PBB sejak 2006 gara-gara program nuklir dan rudal balistiknya. Rancangan resolusi juga mencakup langkah-langkah lain yang pertama kali diusulkan oleh Rusia dan China hampir dua tahun lalu. Termasuk mencabut larangan warga Korea Utara bekerja di luar negeri. Selain itu, membebaskan proyek kerja sama kereta api dan jalan antar-Korea dari sanksi.
Baca juga : Pendamping Desa Senang, Siap Kolaborasi Dongkrak Kompetensi
Beberapa diplomat PBB yang berbicara dengan menyembunyikan identitas mereka menyatakan, hanya sedikit negara yang akan mendukung rancangan resolusi yang diperbarui tersebut. Pada 2019, Rusia dan China telah mengadakan pembicaraan informal mengenai rancangan resolusi, namun tidak pernah diajukan secara resmi dalam pemungutan suara.
Sebuah resolusi membutuhkan sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Rusia atau China untuk disahkan. Kedua negara itu belum menjadwalkan pembicaraan apapun mengenai rancangan resolusi baru mereka.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya