Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Rakyat Pyongyang Kelaparan
Rusia Dan China Desak PBB Cabut Sanksi Korut
Rabu, 3 November 2021 06:30 WIB
Sebelumnya
Dikutip Channel News Asia, Selasa (2/11), Duta Besar Rusia dan China di PBB tidak langsung menanggapi rancangan baru itu, yang menurut para diplomat diedarkan kepada anggota dewan pada Jumat (29/10).
“China ingin, dimensi kemanusiaan akibat sanksi Dewan Keamanan mesti diatasi,” kata Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun kepada wartawan.
Baca juga : Ingin Anaknya Ketularan Sukses, Ibu Hamil Ini Minta Sandi Elus Perutnya
Seorang Juru Bicara Misi AS untuk PBB menilai, semua anggota PBB harus fokus menangani pihak yang melanggar sanksi. “Dewan Keamanan telah berulang kali menegaskan, mereka siap mengubah, menangguhkan, atau mencabut tindakan yang mungkin diperlukan sehubungan kepatuhan DPRK (Korea Utara),” kata juru bicara itu.
Dewan Keamanan PBB memang sudah mengizinkan pengecualian kemanusiaan.Seorang penyelidik Hak Asasi Manusia (HAM) PBB bulan lalu menyerukan agar sanksi dilonggarkan, sebagai risiko kelaparan paling rentan di Korea Utara, akibat isolasi selama pandemi Covid-19.
Baca juga : Pendamping Desa Senang, Siap Kolaborasi Dongkrak Kompetensi
Sanksi terhadap industri yang telah diusulkan Rusia dan China untuk dicabut telah menghasilkan ratusan juta dolar AS bagi Korut. Sanksi-sanksi itu diberlakukan pada 2016 dan 2017 guna mencoba memotong dana untuk program nuklir dan rudal Pyongyang.
Namun, Korut terus mengembangkan program rudal nuklir dan balistiknya selama paruh pertama 2021. Ini melanggar sanksi PBB. Parahnya lagi, Korut melakukannya saat situasi ekonomi negara itu memburuk.
Baca juga : Waskita Karya Bidik Proyek Ibu Kota Baru
Negara ini sebenarnya telah lama menderita kerawanan pangan. Pengamat mengatakan, salah urus ekonomi juga diperburuk sanksi dan pandemi Covid-19. [DAY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya