Dewan Pers

Dark/Light Mode

KLHK Pastikan IKN Bukan Kantong Sebaran Orangutan

Rabu, 23 Februari 2022 21:24 WIB
Ilustrasi orangutan. (Foto: Dok. KLHK)
Ilustrasi orangutan. (Foto: Dok. KLHK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wilayah pusat Ibu Kota Negara (IKN) berada di bekas kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), yang bukan merupakan hutan primer lagi.

Pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipatif guna mengurangi dampak yang terjadi dalam pembangunan IKN seperti AMDAL, KLHS, koridor, dan sebagainya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK, Wiratno menyampaikan bahwa Pusat IKN bukanlah merupakan daerah sebaran alami orangutan, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/2).

Wiratno menerangkan, Peta Sebaran orangutan di wilayah IKN, berdasarkan PHVA (2016) populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) terbagi ke dalam 17 landsekap, yaitu Lansekap Beratus, Sungai Wain, TN Kutai-Bontang, Belayan – Senyiur, Wehea–Lesan, Sangkulirang, Tabin, Area Hutan Tengah, Kinabatangan Rendah, Kinabatangan Utara, Ulu Kalumpang, Crocker, Lingkabau, Bonggaya, Ulu Tungud, Trus madi, Sepilok, dengan total jumlah orangutan sebanyak 14.540.

Berita Terkait : Kampanye 120 Hari Hanya Untungkan Caleg Kantong Tebal

"Orangutan terdekat dengan IKN hanya di lansekap Sungai Wain. Orangutan yang terdapat di areal Sungai Wain adalah orangutan hasil rehabiltasi," ungkap Wiratno.

Jumlah orangutan yang sudah dirilis dari ketiga Pusat Rehabilitasi yaitu Samboja (BOSF), Jejak Pulang dan Pusat Suaka orangutan Arsari Itciku adalah sebagai berikut:

(1) Sungai Wain: (tahun 1992-1997) sejumlah 78 orangutan.

(2) Meratus: (tahun 1997-2002) sejumlah 338 orangutan.

Berita Terkait : Harga Kedelai Naik, Syarief Dorong Kebijakan Kemandirian Pangan

(3) KJ7: (tahun 2012-2021) sejumlah 126 orangutan.

Tempat pelepasliaran ini berada di zona luar pembangunan IKN. Untuk antisipasi agar orangutan tidak ke zona IKN, dilakukan upaya antisipatif bersama dengan para pihak antara lain membangun koridor satwa liar, memulihkan ekosistem untuk memperbanyak cluster habitat satwa.

Terutama di bekas tambang, dan melaukan mobilisasi Wildlife Respon Unit (WRU), serta mengoperasionalkan Call Center untuk menerima laporan masyarakat, agar dapat dilakukan respon cepat apabila ditemukan orangutan yang keluar dari tempat rehabilitasinya.

Wiratno menegaskan bahwa kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan isu terfragmentasinya habitat orangutan karena adanya pembangunan IKN.

Berita Terkait : Pertamina Pastikan Pasokan Avtur Di NTB Aman Selama MotoGP

Dalam KLHS IKN, telah diidentifikasi lokasi-lokasi yang mempunyai keanekaragaman hayati tinggi untuk dipertahankan, dan lokasi-lokasi yang rusak agar dapat dilakukan penanaman kembali/pemulihan ekosistem dan membuat koridor satwa.
 Selanjutnya