Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tradisi Keagamaan Yang Berke-Indonesiaan (1)

Minggu, 19 Desember 2021 06:30 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap etnik dan budaya, termasuk tradisi keagamaan, mempunyai hak untuk eksis di muka bumi manapun. Hak asasi bukan hanya dimiliki manusia (HAM) tertapi etnik, budaya, dan tradisi, juga mempunyai hak asasi (culture right) untuk terus hidup.

Mereposisi nilai-nilai etnik, budaya, dan keagamaan yang sudah mapan bukan saja akan menimbulkan ketegangan konseptual, melainkan juga berdampak terhadap keutuhan NKRI.

Berita Terkait : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas (2)

Seperti kita ketahui, NKRI dibangun di atas nilai-nilai lokal bangsa, termasuk tradisi budaya dan agama. Lahirnya NKRI menjadi bukti dan hikmah adanya kearifan lokal yang hidup dan berwibawa di dalam masyarakat.

Pemahaman keagamaan yang berkeindonesiaan harus terus dicermati, jangan sampai tergerus oleh suasana reformasi yang melampaui batas (kebablasan). Reformasi harus diartikan secara positif untuk pengembangan NKRI ke arah yang lebih baik dan berdaya saing.

Berita Terkait : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas

Rekonstruksi tradisi keagamaan tentu tidak dimaksudkan untuk mengembalikan keseluruhan tatanan keindonesiaan yang diwarisi dari zaman pra sejarah, proto-Indonesia, dan dalam fase Indonesia awal.

Akan tetapi, pola dialektika budaya dalam lintasan sejarah panjang bangsa Indonesia perlu dipertahankan di dalam melintasi perubahan zamannya. Persandingan antara nilai-nilai sakral keagamaan dan nilai-nilai provan budaya bangsa perlu dipertahankan sebagai watak dan karakter NKRI.

Berita Terkait : Tidak Masa Bodoh Terhadap Kemungkaran

Rekonstruksi tradisi keagamaan sesungguhnya lebih merupakan reartikulasi pemahaman ajaran agama. Di dalam menata ulang Indonesia modern di era reformasi ini tidak perlu menyingkirkan tradisi nilai-nilai luhur agama. (*)