Dark/Light Mode
- Prabowo di KTT BRICS: Indonesia Tidak Suka Didikte Kekuatan Tertentu
- Hari Ke-6, Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis-3 Kru Kapal di Selat Sunda
- Telkomsel Luncurkan Halo Optima Hadirkan Kuota Hingga 2.000 GB
- Luka Menalo Kecewa, Igor Tolic Minta Maaf
- Roll To Glory FIFA ASEAN Cup 2026 Meriahkan CFD Jakarta
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam wacana rekonstruksi pemahaman agama, seringkali bobot keindonesiaan atau tradisi lokal dituding sebagai praktek bid’ah, khurafat, dan sinkretisme. Padahal, mungkin sebagian di antaranya masih relevan untuk ditolerir.
Hal-hal yang memang dianggap betul-betul tidak sejalan atau bertentangan dengan ajaran dasar Islam, perlu dilakukan reartikulasi secara bertahap (tadarruj). Tidak mesti harus melalui jalur pengguntingan atau distorsi yang menyebabkan terjadinya penerimaan terpaksa ajaran Islam.
Baca juga : Tradisi Keagamaan Yang Berke-Indonesiaan (1)
Al-Qur’an sendiri membutuhkan waktu 23 tahun untuk mengubah masyarakat. Padahal di balik Al-Qur’an ada Tuhan yang memiliki kekuatan “kun fa yakun”.
Nabi sendiri memerlukan dua fase, yaitu fase Makkiyyah dan fase Madaniyyah dalam memperkenalkan ajaran Islam. Para Wali Songo pun juga melakukan penahapan dalam memperkenalkan Islam di bumi Nusantara kita.
Baca juga : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas (2)
Fikih Islam yang berkembang dalam lintasan sejarah dunia Islam, khususnya di kawasan Timur-Tengah sesungguhnya tidak lain adalah interpretasi kultural terhadap ajaran dasar Islam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.