Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tradisi Keagamaan Berkeindonesiaan (2)

Senin, 20 Desember 2021 06:20 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam wacana rekonstruksi pemahaman agama, seringkali bobot keindonesiaan atau tradisi lokal dituding sebagai praktek bid’ah, khurafat, dan sinkretisme. Padahal, mungkin sebagian di antaranya masih relevan untuk ditolerir.

Hal-hal yang memang dianggap betul-betul tidak sejalan atau bertentangan dengan ajaran dasar Islam, perlu dilakukan reartikulasi secara bertahap (tadarruj). Tidak mesti harus melalui jalur pengguntingan atau distorsi yang menyebabkan terjadinya penerimaan terpaksa ajaran Islam.

Berita Terkait : Tradisi Keagamaan Yang Berke-Indonesiaan (1)

Al-Qur’an sendiri membutuhkan waktu 23 tahun untuk mengubah masyarakat. Padahal di balik Al-Qur’an ada Tuhan yang memiliki kekuatan “kun fa yakun”.

Nabi sendiri memerlukan dua fase, yaitu fase Makkiyyah dan fase Madaniyyah dalam memperkenalkan ajaran Islam. Para Wali Songo pun juga melakukan penahapan dalam memperkenalkan Islam di bumi Nusantara kita.

Berita Terkait : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas (2)

Fikih Islam yang berkembang dalam lintasan sejarah dunia Islam, khususnya di kawasan Timur-Tengah sesungguhnya tidak lain adalah interpretasi kultural terhadap ajaran dasar Islam.
 Selanjutnya