Dewan Pers

Dark/Light Mode

Skandal Di Tirta Kamandanu

Senin, 18 Juli 2022 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi dalam sambutan di Hari Bhayangkara ke-76 berpesan kepada Polri, bahwa polisi jangan ceroboh dalam bertindak. Polisi harus transparan dan bertindak adil dalam mengusut suatu masalah. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan rakyat. Di sisi lain, pesan tersebut sangat relevan sehubungan penanganan kasus polisi tembak polisi yang terjadi pekan silam.

“Propam itu penegak hukumnya para penegak hukum, Mo,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar hanya mesem, kurang bersemangat untuk menanggapi komentar anaknya, Petruk. Semar memilih menunggu hasil kerja Tim Khusus, Kompolnas, dan Komnas HAM untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa polisi tembak polisi tersebut.

Berita Terkait : Perilaku Cabul Anak Kresna

Seperti biasa, kopi pahit dan singkong rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot membawanya ke zaman skandal Bethara Guru dengan istrinya Dewi Uma.

Kocap kacarito, dua ajudan Bethara Guru yakni Citrasena dan Citragada dipersalahkan atas perbuatan yang tak senonoh. Konon, dua anak muda tersebut mengintip bosnya sedang mandi bersama para selir di pemandian Tirta Kamandanu. Sebagai pemimpin para dewa di Khayangan, Bathara Guru murka terhadap dua anak buah yang kurang sopan tersebut. Maka keduanya dikutuk berubah wujud menjadi raksasa. Citrasena berwujud raksasa berganti nama Kalantaka. Sedangkan Citragada menjadi Kalanjaya. Kedua raksasa jadi-jadian tersebut diusir dari Khayangan dan berkumpul dengan para Kurawa di kerajaan Hastina.

Berita Terkait : Kapolri Muter Sewu Kuto

Berita Bethara Guru bermain dengan para selir dan pengusiran Citrasena dan Citragada sampai ke telinga Shang Hyang Wenang. Shang Hyang Wenang merupakan penguasa tunggal yang membawahi jagat triloka atau tiga kehidupan. Yaitu jagatnya para dewa, manusia dan para jin atau begasakan. Shang Hyang Wenang tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Bethara Guru tentang apa yang terjadi di Khayangan. Rupanya, gonjang-ganjing yang terjadi di Khayangan dipicu oleh perilaku menyimpang Bethara Guru dan Dewi Uma.

 

Sebagai suami istri, Hubungan Bethara Guru dengan Dewi Uma sudah tidak harmonis. Hal ini dipicu oleh kelakuan Bethara Guru yang suka koleksi selir muda. Hal ini membuat cemburu Dewi Uma. Untuk membalas Bethara Guru, Dewi Uma menjalin hubungan cinta terlarang dengan para widadara. Sebagai orang nomor satu di Khayangan Jongring Saloka, Bethara Guru seharusnya menjadi teladan bagi para dewa.

Berita Terkait : Dendam Politik Widura

Shang Hyang Wenang murka kepada Bethara Guru dan Dewi Uma atas perilaku yang menyimpang dari tatanan tersebut. Keduanya dipersalahkan karena sebagai suami istri dan panutan justru berbuat yang tidak baik. Dewi Uma dikutuk menjadi raseksi buruk rupa. Sedangkan Bethara Guru mendapat hukuman kakinya lumpuh. Raseksi jelmaan Dewi Uma berganti nama menjadi Durga dan diusir dari Khayangan. Durga menjadi ratu para jin dan setan di Setra Gandamayit. Kelak wajah Durga kembali cantik setelah diruwat oleh Semar dan Sadewa. Begitu pula Kalanjaya dan Kalantaka bisa kembali menjadi dewa setelah ditolong Dewi Kunti dan Sadewa.

“Rupanya, goro-goro di Khayangan dipicu oleh nafsu Bethara Guru Mo,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Dari dulu yang namanya godaan manusia ada tiga macam. Yaitu godaan karena kekuasaan atau tahta, harta, dan wanita. Kalau kita tidak eling dan waspada kita akan jatuh oleh godaan tersebut,” sahut Semar. Oye