Dark/Light Mode

Menggapai Kesejukan Beragama (20)

Harmonisasi Ulama dan Umara (1)

Senin, 7 Oktober 2019 06:17 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Terpilihnya KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum MUI, Rais ‘Aam PBNU, dan sederet jabatan keagamaan lainnya di dalam masyarakat, sebagai wakil presiden, sesungguhnya sangat menjanjikan terciptanya harmonisasi ulama sebagai pemimpin umat dan umara sebagai pemimpin bangsa.

Jika kedua kekuatan ini menyatu di negeri ini, maka tak ada satu pun yang bisa menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bernegara di republik ini.

Sebaliknya jika kedua kubu ini berhadap-hadapan, maka akan terjadi inefisiensi energi bangsa.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS Al-Fathir/35:28).

Berita Terkait : Makna Hidup Beragama

Dalam hadis ditegaskan; “Muliakanlah ulama kalian karena mereka pewaris nabi. Barangsiapa memuliakannya berarti memuliakan Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari).

Hadis lain diriwayatkan oleh Baihaqi: Hilangnya sebuah suku lebih mudah daripada matinya seorang ulama”.

Banyak lagi hadis yang mengingatkan pentingnya ulama dalam kehidupan bermasyarakat.Pada saat bersamaan, umara juga sangat penting. Baik dari pandangan obyektif maupun pandangan keagamaan.

Dalam Al-Qur’an sendiri ditegaskan pentingnya peran umara: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. An-Nisa’/459).

Berita Terkait : Membaca Trend Kelompok Radikal (2)

Nabi juga pernah berperang sebagai umara ketika ia memimpin pemerintahan di Madinah. Beliau memberikan kepercayaan yang amat besar terhadap Gubernur yang ditunjuk di beberapa propinsi saat itu.

Ayat-ayat dan hadis di atas memberikan kedudukan secara proporsional kepada kedua institusi umat. Ulama bertugas sebagai pembimbing spiritualitas umat sedangkan umara pembina di dalam kehidupan bermasyarakat umat.

Kedua instansi ini harus bekerjasama sebagaimana amanah dari ayat dan hadis. Tidak boleh antara satu sama lain saling merendahkan.

Jika ulama terlalu dominan dan peran umara menjadi lemah maka dikhawatirkan akan lahir masyarakat teokratis, atas nama agama (padahal mungkin itu penafsiran ulama) masyarakat dikendalikan.

Berita Terkait : Membaca Trend Kelompok Radikal (1)

Sebaliknya jika peran umara terlalu dominan dan peran ulama terlalu lemah dikhawatirkan akan lahir masyarakat sekuler atau liberal.***