Dark/Light Mode

Pancasila Memperteguh Kesadaran Manusia Pada Puasa Ramadan

Jumat, 15 Maret 2024 06:31 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Ini menjadi jelas bahwa puasa mengajarkan untuk memahami dan menghargai pengalaman bersama, memperdalam empati, dan memperkuat solidaritas sebagai pondasi bagi masyarakat yang adil dan berkeadilan. Ibadah puasa jadi tidak hanya merupakan sebuah kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki implikasi yang dalam dalam konteks sosial dan politik masa kini.

Ketika individu memper­da­lam penghayatan akan ­nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, persatuan, dan kebersamaan dalam ibadah puasa, hal ini tidak hanya memperkuat hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat ikatan horizontal di antara sesama manusia. Pengalaman bersama dalam puasa mendorong individu ­untuk lebih memahami pengalaman bersama dan mengem­bangkan empati terhadap sesama.

Baca juga : Dubes Jepang Masaki Yasushi Pengen Kerja Sama Pertahanan RI-Jepang Makin Lengket

Pada tingkat sosial, peng­hayatan nilai-nilai ini membentuk landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berkeadilan. Kasih sayang dan keadilan menjadi pijakan bagi berbagai inisiatif sosial yang bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan, sementara persatuan dan kebersamaan memperkuat solidaritas di antara anggota masyarakat.

Pancasila juga menggarisbawahi nilai-nilai sosial ­seperti keadilan, persatuan, dan kebersamaan. Ketika umat ­Islam menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, mereka tidak hanya mengejar keutamaan spiritual pribadi, tetapi juga secara tidak langsung berpartisipasi dalam mem­bangun masyarakat yang adil dan berkeadilan. Solida­ritas yang terbentuk dalam pengalaman bersama puasa juga ­men­ciptakan ikatan yang kuat di ­antara anggota masya­rakat, ­se­suai dengan semangat per­satuan dan kebersamaan Pancasila.

Baca juga : SIM Keliling Jakarta 9 Maret, Hadir di 5 Lokasi

Di ranah politik, fondasi sosial yang kuat akan tercermin dalam tindakan-tindakan kolektif yang didorong oleh moralitas dan nilai-nilai yang ditanamkan melalui ibadah puasa. Para pemimpin yang memahami dan menerapkan nilai-nilai ini dalam kebijakan publiknya akan lebih mampu menciptakan kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial dan persatuan bangsa.

Dalam konteks politik, ibadah puasa membentuk individu yang lebih sadar akan nilai-nilai moral dan etika, yang kemudian dapat tercermin dalam perilaku politik mereka. Para pemimpin yang memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan politiknya akan cenderung lebih memperjuangkan keadilan sosial dan persatuan dalam menjalankan roda peme­rintahan.

Baca juga : Mengaktualisasikan Pancasila Dalam Menyambut Ramadhan

Dengan demikian, ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya merupakan sebuah ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sebuah sarana untuk memperkuat dan membentuk pondasi moral dan sosial yang kokoh dalam masyarakat dan politik masa kini. Puasa, sebagai bagian dari praktik keagamaan umat Islam, secara langsung mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia.

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Ketua Umum DPN ­Persatuan ­Pensiunan Indonesia, dan Ketua Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi ­Pancasila (BPIP) RI.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.