Dark/Light Mode

Teosofi Haji (45)

Di Balik Keheningan Malam Muzdalifah

Jumat, 12 Juli 2024 05:45 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu rukun ibadah Haji ialah bermalam di Muzdalifah. Tempat ini memiliki beberapa makna dan rahasia di baliknya. Di antaranya ialah bagian dari rangkaian ibadah haji yang diperintahkan Allah SWT.

Tindakan ini menunjukkan kepatu­han total jamaah haji terhadap per­intah Allah, yang merupakan salah satu tujuan utama dari pelaksanaan haji. Tentu saja tempat ini tetap menjadi lautan manusia yang seren­tak menyuarakan lafadh talbiyah: Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syaraika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata la syarika laka wal mulk.

Kesyahduan semakin bertambah dengan tampilnya Bintang-bintang yang menghiasi langit, seolah mer­eka menjadi penonton dan penuh ketakjuban menyaksikan para hamba Tuhan membesarkan Tuhannya.

Baca juga : Makna Spiritual Wukuf Di Arafah

Di dalam keheningan malam nyaris tanpa suara selain lafadh talbiyah, para hamba Tuhan masing-masing memungut batu-batuan untuk melontar jamarat di Mina.

Proses ini melambang­kan persiapan dan kesiapan mental dalam menghadapi godaan dan tan­tangan hidup, yang diwakili oleh setan dalam ritual melontar jumrah. Mereka mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW menginap di Muzdalifah setelah meninggalkan padang Arafah dan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya di sana.

Bermalam di Muzdalifah mem­berikan kesempatan bagi jamaah haji untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya, seperti melontar jumrah di Mina. Ini juga menjadi waktu refleksi dan introspeksi spiritual setelah puncak wukuf di Arafah.

Baca juga : Makna Spiritual Di Balik Maqam Ibrahim (2)

Di Muzdalifah semua jamaah haji tidur atau tidur-tiduran sejenak di bawah langit terbuka tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan. Ini menggambarkan kesederhanaan dan persamaan di hadapan Allah SWT, memperlihatkan bahwa semua manusia adalah sama di mata-Nya.

Bermalam di Muzdalifah menjadi waktu untuk merenungkan perjalanan spiritual yang telah dilaku­kan dan yang akan datang. Di tempat ini, jamaah haji mengingat kebesaran Allah dan memperbaharui niat serta tekad mereka untuk menyempur­nakan ibadah haji.

Para jamaah haji kembali merasakan kekerdilannya di hadapan Rabbul Jalil. Betul-betul pa­da malam itu para jamaah merasakan dirinya sebagai hamba yang amat kerdil, tak punya apa-apa yang dapat dibanggakan, dan mereka merasakan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Agung dengan segala keterpesonaan yang dimiliki-Nya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.