Dark/Light Mode

Memupuk Cinta Sejati Antara Sesama Makhluk

Rabu, 18 Desember 2024 05:47 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Cinta sejati sering diistilahkan dalam bahasa Inggris dengan beberapa istilah seperti self-love, saint love, dan unconditional love.

Self-love ketika seseorang mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, mirip den­gan istilah tatwanasih dalam agama Budha. Disebut self-love karena cintanya betul-betul tanpa pamrih.

Bagaimana seorang ibu mencintai dan menyayangi bayinya maka dia juga harus menyayangi dirinya, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya agar anaknya bisa memperoleh air susu segar dari dirinya.

Baca juga : Deliberalisasi Untuk Deradikalisasi

Seseorang dapat menjadi pencinta sejati jika dia dapat memberi cinta yang tulus kepada orang lain seperti mencintai dirinya sendiri, atau mencintai orang lain karena dia mencintai dirinya. Bahkan self-melintasi batas kemanusiaan karena ternyata limpahan cintanya juga merembes ke seluruh makhluk lain.

Erich Fromm ketika membahas kualitas self-love mengungkap sebuah pernyataan: “Cinta kepada diri saya ti­dak dapat dipisahkan dari cinta kepada semua makhluk hidup”.

Sedangkan selfishness ketika seseorang hanya tertarik kepada dirinya sendiri, tidak peduli kepada orang lain, dan mengingkari segala ses­uatu untuk dirinya sendiri.

Baca juga : Iblis Dan Malaikat Penguji Iman

Dia tidak merasa senang kalau memberi dan hanya senang dalam mengambil. Sekalipun secara materil sudah hidup berkecukupan atau sudah di atas stan­dard rata-rata kehidupan di sekitarnya tetapi masih merasa belum cukup, karena itu dia selalu berharap dan meminta kepada orang lain.

Orang ini sesungguhnya bukan hanya tidak dapat mencintai orang lain melainkan juga tidak bisa mencintai dirinya sendiri. Dia sebenarnya membenci dirinya sendiri yang terus menerus meminta tanpa pernah dipuaskan, tetapi sulit menjelaskan mengapa itu terjadi pada dirinya sendiri.

Karena itu, Erich Fromm menyebut orang ini menderita semacam gangguan psikologis dalam bentuk ketidak sanggupan untuk mencintai.

Baca juga : Keberadaan Islam Wetu Telu Di Lombok

Self-love bisa merasakan kepuasan sejati di dalam dirinya, terutama kalau dia mampu berbagi dengan orang lain. Dia bisa merasakan ke­bahagiaan terlebih dahulu sebelum memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Dengan demikian, sedikit atau banyak tidak menjadi penentu kebahagiaan dan kepuasan tetapi uku­rannya kekayaan dan kepuasaan jiwa.

Sama dengan bahasa agama Islam: Al-gina gina al-nafs (kekayaan sejati ialah kekayaan jiwa). Berbeda dengan selfishness yang sesungguhnya sudah menjurus kepada keserakahan dan ke­lainan jiwa. Keserakahan yang diper­parah dengan penyakit kelainan jiwa inilah yang melahirkan kapitalisme.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.