Dark/Light Mode

Beragama Dalam Keberagaman (39)

Keberadaan Paham Ali Taitang-Zikrullah

Jumat, 13 Desember 2024 05:50 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Paham Ali Taitang-Zikrullah sebuah faham yang pernah menghebohkan masyarakat Sulawesi Tengah, dengan hadirnya seorang yang bernama Ali Taitang mengangkat dirinya sebagai Nabi pada tanggal 19 Oktober 1956 dan setelah wafat digantikan oleh putranya bernama Zikrullah yang juga melanjutkan kenabian bapaknya.

Faham ini dicetuskan oleh Ali Taitang di Likabu di kampong Sampekonan, tepatnya Desa Labibi, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Wilayah ini sangat terpencil.

Menurut Nuhrison M.Nuh, Peneliti Puslitbang Kehidupan Beragama Kementerian Agama, dalam penelitiiannya tentang “Nabi dari Sampekonan: Studi terhadap Faham Ali Taetang dan Zikrullah”, menyatakan kawasan ini sangat jauh dan sulit dijangkau kendaraan.

Baca juga : Keberadaan Sidulur Sikep (Samin)

Saat ini diperlukan kendaraan mobil 17 jam kemudian naik kapal 8 jam ke Banggai, disambung lagi dengan menggunakan speedboot sekitar sejam, kemudian mengunakan ojek sekitar 20 menit ke lokasi. Kalau di Jakarta diperlukan waktu sekitar 3 hari 2 malam untuk sampai ke lokasi itu.

H. Ali Taitang Likabu lahir di Kampung Timbong di pedalaman P. Banggai, Senin 10 Juli 1922 dari keluarga petani. Ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru di Luwuk, kemudian menjadi guru Sekolah Bakyat Banggai.

Ia memiliki bakat seni dan orator yang tinggi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sumatera Thawalib Bukit Tinggi, Sumatera Barat, selama 4 tahun.

Baca juga : Keberadaan Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

Sekembalinya dari Sumatera, ia menjumpai isterinya sudah kawin dengan laki-laki lain. Semenjak itu ia merasa terpukul, selalu merenung, hingga pada suatu ketika ia melihat cahaya begitu terang di sebuat tempat bernama Batusosoat, terletak di sebuah pulau kecil masih di kawasan Banggai.

Ia mengklaim cahaya itu sebagai wahyu yang turun kepada dirinya. Semenjak itu ia mulai mengembangkan kepercayaannya. Dalam waktu tidak lama, salah seorang nenek berprofesi sebagai penari tradisional kesurupan dan mengalungkan selendang putihnya ke bahu Ali Taitang sambil mengatakan “Ikono Kongga Nabi” (Engkaulah nabi Kami). Semenjak itu Ali Taitang semakin popular sebagai nabi. Dengan dasar pemahaman agama Islam yang lumayan, ia membuat alasan bahwa tidak pernah ada ketegasan ayat dan hadis yang menyatakan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.

Ia kemudian mulai membuat syahadat: Asyhadu alla Ilaha illallah wa asyhadu anna ‘Aliyyan imamullah. Rukun iman dan rukun Islam tidak ada yang berbeda dengan keyakinan dalam Islam. Yang berubah hanya syahadatnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.