Dark/Light Mode

Meningkat Dari Istigfar Ke Taubat

Sabtu, 26 Oktober 2024 05:41 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Antara Istigfar dan Taubat dibedakan oleh para ulama. Istigfar adalah ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istigfar, misalnya Astagfirullahal ’adhim. Sedangkan taubat lebih dari sekedar itu.

Taubat menuntut persyaratan lebih banyak. Dalam kitab Hadâiq al-Haqâiq karya Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin Al-Razi (W. 660 H), taubat disyaratkan dengan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiyat, mengucapkan kalimat istigfar, seraya menyesali perbuatan dosa dan maksiyat itu, bertekad dalam hati untuk tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Sebagian ulama menambahkan syarat, meminta maaf kepada mereka yang telah dianiaya dan mengembalikan hak-hak mereka, mengganti perbuatan dosa dan maksiyat dengan amal kabajikan, menghancurkan daging dan lemak yang tumbuh dalam dirinya yang berasal dari sumber yang haram dengan cara al-riyadhah, yakni menjalani latihan jasmani dan rohani dalam menempuh berbagai tahapan menuju kedekatan diri kepada Allah, dan mujahadah, yakni perjuangan melawan dorongan nafsu amarahnya, tidak makan, minum, dan memakai pakaian kecuali yang bersumber dari yang halal, dan mensucikan hati dari sifat khianat, tipu daya, sombong, irihati, dengki, panjang angan-angan, lupa terhadap kematian, dan yang semacamnya. Dengan demikian, taubat lebih berat daripada istigfar.

Baca juga : Memulai Sesuatu Dengan Niat Yang Luhur

Dalam kitab Ihya ’Ulumuddin karya monumental Al-Gazali (W. 505 H), taubat mengisyaratkan tiga tingkatan. Pertama, taubatnya orang awam, yaitu taubat dari dosa dan maksiyat. Kedua, taubatnya orang khawas, yaitu taubat tidak karena melakukan dosa atau maksiyat melainkan taubat karena alfa melakukan ketaatan yang bersifat sunnat, misalnya meninggalkan shalat dhuha, shalat tahajjud, puasa Senin-Kamis, dan lain lain.

Ketiga, taubatnya orang khawashul khawash, yaitu taubat bukan karena dosa dan maksiyat atau meninggalkan ketaatan sunnat, apalagi wajib, melainkan taubat karena berkurangnya nilai khusyu dari seluruh rangkaian rutinitas ibadah yang dilakukan.

Bagi golongan ini, alfa sedikitpun tidak mengingat Allah SWT dirasakan seperti melakukan dosa, sehingga ia berusaha untuk menutupi kelemahan-kelemahan itu dengan taubat dan istigfar.

Baca juga : Melatih Diri untuk Diam

Imam Al-Gazali juga menjelaskan kesempurnaan taubat jika seseorang sudah mampu melakukan delapan langkah, yaitu: 1. meninggalkan dosa dan maksiyat, 2. mengikrarkan kalimat istigfar (astagfirullah al-’adhim), 3. menyatakan penyesalan sedalam-dalamnya kepada Tuhan akan perbutan dosa yang dilakukan, 4. Bertekad dalam hati untuk tidak akan lagi mengulangi dosa itu, 5. mengembalikan barang orang lain yang diambil secara tidak sah, 6. meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti atau dikorbankan, 7. mengganti amal keburukan itu dengan amal-amal kebajikan, 8. menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Poin yang ketujuh amat penting. Rasulullah SAW, pernah ditanya oleh isterinya, ’Aisyah RA, mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT? Rasulullah menjawab singkat, ”Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur”.

Dari sini bisa difahami, porsi makna taubat tidak hanya sekedar pembersihan diri dari dosa dan maksiyat, tapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Baca juga : Prediksi Malaikat Tentang Manusia

Dalam perspektif tasawuf, para ulama menempatkan istigfar dan taubat sebagai maqam atau anak tangga pertama dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maqam-maqam berikutnya, seperti sabar, qana’ah, faqir, zuhud, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifah akan menyusul dengan sendirinya jika maqam taubat sudah dituntaskan.

Dengan kata lain, istigfar dan taubat adalah anak tangga yang harus dilalui seorang hamba. Siapapun dan apapun kedudukan dan status seseorang, termasuk Rasulullah SAW sendiri senantiasa menjalankan taubat. Bahkan ’Aisyah juga meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah kurang 100 kali mengucapkan lafaz-lafaz istigfar. Istigfar dan taubat akan meringankan beban hidup seseorang.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Sabtu, 26 Oktober 2024 dengan judul "Meningkat Dari Istigfar Ke Taubat"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.