Dark/Light Mode

Moderasi Beragama Di Indonesia (33)

Antara Sentripetal Dan Sentrifugal

Senin, 24 Februari 2025 06:08 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Kekuatan sentripetal dan sentrifugal keduanya berebutan mencari pengaruh di dalam masyarakat. Alangkah baiknya jika Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejak awal diperkenalkan aspek sentripetal dari setiap agama pada saat mengajarkan pelajaran agama. 

Dan pada saat bersamaan juga diperkenalkan bagaimana besar dampak negatif jika agama tampil sebagai faktor sentrifugal. Apalagi di daerah yang secara objektif tersusun dari berbagai ikatan primordial seperti Indonesia.

Baca juga : Syahid = Patriot?

Dalam mempersiapkan generasi bangsa masa depan, pendidikan karakter amat diperlukan. Para tokoh masyarakat seperti mubalig, politisi dan praktisi dunia pendidikan perlu lebih hati-hati dan membatasi diri di dalam memperkenalkan konsep-konsep keagamaan agar generasi penerus bangsa tetap hidup dengan penuh kedamain dan kearifan. Teramat riskan jika bahasa agama terlalu banyak dilibatkan di dalam berpolitik praktis.

Atas dasar ini, Kementerian Agama mulai mengevaluasi kurikulum pendidikan keagamaan, dengan mengembangkan kurikulum cinta. Tujuannya ialah bagaimana memperkenalkan agama sebagai faktor sentripetal, bukan sebagai faktor sentrifugal. 

Baca juga : Dampak Pengosongan Kolom Agama Dalam KTP

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Senin, 24 Februari 2025 dengan judul "Moderasi Beragama Di Indonesia (33) Antara Sentripetal Dan Sentrifugal"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.