Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (QS Al-Qadr/ 97:1-5)
Menarik untuk dikaji redaksi yang digunakan surah Al-Qadr ini. Pertama yang perlu diperhatikan mengapa menggunakan kata ganti (dhamir) hu yang kemudian para ulama tafsir memaknainya dengan Al-Qur’an dan ada juga dengan Jibril. Mengapa menekankan al-qadr, kenapa bukan lailah al-qadha’? Mengapa penekanan pada malam (lailah al-qadr), mengapa bukan nahar al-qadr, bukankan justru di siang hari kita menunaikan puasa, salahsatu Rukun Islam? Apa sesungguhnya makna lailah menurut bahasa, jumhur ulama, dan kalangan sufi?
Kalangan ulama tafsir mengatakan bahwa yang turun pada malam Lailah al-Qadr (LQ) ialah turunnya Al-Qur’an ke langit bumi secara sekaligus (al-inzal), kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan jibril.
Ketika wahyu Al-Qur’an masih menjadi Kalam al-Nafs atau Kalam al-Dzati belum disebut Al-Qur’an. Nanti disebut Al-Qur’an ketika sudah ditransformasikan menjadi Kalam al-Lafdz, ketika sudah menggunakan huruf-huruf dan tanda baca yang berbahasa Arab.
Ketika masih dalam bentuk Kalam Nafs, tak seorang pun tahu wujudnya seperti apa dan menggunakan bahasa apa. Dari Kalam al-Nafs ada yang pernah ditransformasi menjadi Kitab Taurat dengan menggunakan bahasa Hebrew (Ibrani) karena dialamatkan kepada Nabi Musa yang sehari-harinya menggunakan bahasa Hebrew.
Ada juga ditransformasikan ke dalam bentuk Kitab Injil dengan menggunakan bahasa Suryani, karena dialamatkan kepada Nabi Isa yang sehari-harinya menggunakan bahasa Suryani. Ketika ditransformasikan menjadi Al-Qur’an yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW, otomatis menggunakan bahasa Arab karena bahasa sehari-hari Nabi Muhammad adalah bahasa Arab.
Pertanyaannya lebih lanjut, siapa yang membahasa Hewbrewkan Kitab Injil, membahasa Suryanikan Kitab Injil, dan membahasa Arabkan Al-Qur’an? Apakah kitab-kitab tersebut sejak dari sono-nya menggunakan bahasa-bahasa tersebut, atau Malaikat Jibril yang berperan mengartikulasikannya kepada nabi-nabi tersebut sesuai dengan bahasanya masing-masing, atau Nabi yang menerima wahyu itu yang mengartikulasikannya ke dalam bahasa kaumnya. Kita belum mendapatkan informasi yang jelas tentang hal ini.
Ada isyarat dalam Al-Qur’an yang menekankan Jibril menyampaikan Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas:
Baca juga : Misteri Air (Bagian 1)
Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Q.S. As-Syura/26:192-195).
Sedangkan ayat lain mengisyaratkan Al-Qur’an sejak zaman azalinya sudah menggunakan bahasa Arab, sebagaimana difahami di dalam ayat:
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Qur’an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya (QS Yusuf/ 12:1-2).
Dalam ayat lain Allah SWT mengisyaratkan Al-Qur’an turun dengan menggunakan cita-rasa Arab (lisanan ‘arabiyyan): Dan sebelum Al-Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang lalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al-Ahqaf/46:12).
Baca juga : Misteri Angin (Riyah) dan Penyerbukan
Antara kata Qur’anan ‘Arabiyyan (Al-Qur’an yang berbahasa Arab) dan Liasanan ‘Arabiyyan (Al-Qur’an yang bercita rasa Arab) aksentuasinya berbeda. Yang pertama lebih menekankan Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab secara ketat dan yang kedua menekankan Al-Qur’an menggunakan cita-rasa Arab.
Namun ada satu hadis dari ‘Aisyah menerangkan bahwa wahyu yang paling berat diterima Nabi Muhammad ialah yang turun dalam bentuk bunyi lonceng, kadang-kadang Nabi keringatan di musim dingin begitu beratnya menerjemahkan suara bunyi lonceng itu ke dalam bahasa Al-Qur’an sebagaimana adanya sekarang. Hadis ini bisa difahami seolah-olah yang membahasa Arabkan Al-Qur’an ialah Nabi Muhammad SAW. Allahu a’lam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.