Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
Sebelumnya
Yang menarik, program ini dibiayai oleh negara. Dalam hal ini adalah “Commonwealth Government Rural Health Multidisciplinary Training Program”. Baik kalau kerja sama dengan universitas seperti ini dilakukan juga di negara kita.
Baca juga : WHO Dan Pendidikan Kedokteran
Akan baik kalau di negara kita juga dibuat program pendidikan untuk daerah rural/pedesaan ini juga. Ya setidaknya karena tiga alasan. Pertama, menurut Bank Dunia (2023), ada 41,43% penduduk kita yang tinggal di pedesaan. Kedua, tentu di mana pun rakyat kita berada maka harus mendapat pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu, sesuai prinsip universal “Health for All” – Kesehatan untuk Semua. Ketiga, di negara kita ada banyak fakultas kedokteran yang bermutu bagus, di mana dosennya pun diakui di dunia internasional. Untuk ini, maka jelas perlu kerja sama berbagai sektor yang terlibat dalam pendidikan kedokteran. Kalau ada pertentangan antara satu dan lainnya, maka tentu jadinya tidak produktif dan pada akhirnya merugikan kesehatan bangsa kita.
Baca juga : Penelitian Vaksin TB Baru, Presiden Prabowo & Bill Gates
Semoga semua upaya dapat kita lakukan demi mewujudkan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, apalagi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor Griffith University
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018–2020
- Dosen Fakultas Kedokteran sejak 1987, hampir 40 tahun yang lalu
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.