Dark/Light Mode

Membangun NKRI Dari Desa Bila Desa Terlupakan, Indonesia Raya Terancam

Senin, 28 Juli 2025 07:57 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Memang, membangun negara dari desa bukan perkara mudah. Masih banyak tantangan yang harus diatasi. Korupsi di tingkat lokal, dominasi elite ­desa, ­rendahnya kapasitas biro­krasi desa, dan lemahnya literasi ­digital menjadi penghambat nyata. Di sisi lain, banyak program pemerintah yang bersifat top-down, seragam, dan tidak mempertimbangkan konteks lokal. Hal ini membuat program pembangunan kurang tepat ­sasaran dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu pen­dekatan baru yang partisipatif, inovatif, dan kolaboratif.

Musyawarah desa harus menjadi ruang otentik untuk menyu­sun rencana pem­bangunan, bukan hanya sekadar formalitas. Dana desa harus dikelola secara transparan dan produktif, bukan sekadar dihabiskan untuk ­infrastruktur yang tidak berdampak langsung pada kesejah­teraan. Pendidikan dan pelatihan bagi aparatur desa juga harus di­tingkatkan, agar tata ­kelola pembangunan menjadi lebih ­profesional dan akuntabel.

Baca juga : Revitalisasi Pancasila Memperkukuh Ideologi Dalam Sistem Pendidikan Nasional

Pemerintah pusat dan daerah tidak bisa bekerja sendiri. Akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan media harus terlibat aktif dalam membangun kapasitas desa. Univer­sitas bisa menjadikan desa sebagai laboratorium hidup bagi riset terapan dan pengabdian masyarakat. Lembaga swadaya masyarakat dapat membantu dalam pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan di desa. Dunia usaha juga bisa membangun kemitraan bisnis berbasis keberlanjutan dengan desa-desa penghasil komoditas unggulan.

Dengan sinergi berbagai pihak, desa tidak akan lagi menjadi beban, melainkan menjadi motor penggerak pembangunan nasional. Maka membangun NKRI dari desa adalah proyek ke­bangsaan jangka panjang. Ia bukan hanya soal pem­bangunan fisik, tetapi pembangunan ­peradaban. Ia bukan hanya soal membangun jalan, tetapi membangun harapan.

Baca juga : Geostrategi Sekolah Rakyat: Memperkuat Karakter Bangsa Dan Ideologi Pancasila

Ketika desa tumbuh dengan nilai, daya, dan martabatnya sendiri, maka Indonesia pun akan berdiri lebih kokoh. Indo­nesia Raya bukanlah mimpi utopis jika kita mau memulainya dari bawah—dari desa. Dalam kerangka Asta Cita dan semangat keadilan sosial, membangun negara dari desa adalah bentuk paling nyata dari pengamalan Pancasila. Ia adalah cara kita menjaga NKRI tetap utuh, merdeka, dan bermartabat.

Harusnya Indonesia tidak semata-mata dibangun dari gedung-gedung pencakar langit, tetapi dari sawah, ladang, sungai, dan hutan yang ada di desa. Di situlah sesungguhnya Indonesia berada. Maka dari desa, kita bangun NKRI untuk Indonesia Raya.

Baca juga : Pesan Strategis Dari KTT BRICS 2025: Kepemimpinan Indonesia Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur ­Lemhannas RI (2001-2005) dan ­Direktur Jenderal Sosial Politik ­Depdagri RI ­(1998-2000). ­Dewan Pakar BPIP RI Bidang Geopolitik dan Geostrategi ­Manajemen Pemerintahan. Ketua Dewan Pembina Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.