Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ambalat Dan Laut Sulawesi: Menang Tanpa Menyakiti, Damai Tanpa Menyerah
Senin, 11 Agustus 2025 08:09 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Dunia kini berada dalam pusaran persaingan kekuatan besar, terutama di kawasan Indo-Pasifik, yang menjadikan stabilitas ASEAN sebagai aset bersama yang harus dijaga. Konflik terbuka antara dua anggota ASEAN seperti Indonesia dan Malaysia tidak hanya melemahkan persatuan kawasan, tetapi juga membuka peluang bagi pihak luar untuk ikut campur dengan dalih menjaga keamanan. Dari itu, mempertahankan persaudaraan serumpun menjadi bagian dari strategi besar untuk menutup pintu bagi intervensi asing.
Kendati begitu perdamaian yang sejati tidak berarti menanggalkan ketegasan. Indonesia harus tetap memperkuat posisi hukumnya dengan mengacu pada UNCLOS 1982, peta resmi, dan bukti pengelolaan wilayah secara historis. Kehadiran nyata di laut melalui patroli TNI AL, pembangunan infrastruktur perbatasan, serta penelitian hidro-oseanografi menjadi bentuk nyata penguatan klaim. Dengan fondasi seperti ini, diplomasi damai yang dijalankan memiliki kekuatan dan legitimasi, bukan sekadar basa-basi politik.
Baca juga : Hukum Dalam Keadilan Pancasila Terhadap Amnesti Dan Abolisi
Dalam filsafat perdamaian, damai yang kokoh adalah damai yang berdiri di atas keadilan dan kebenaran, bukan damai yang dibangun di atas penyerahan diri. Maka mengelola sengketa seperti Ambalat membutuhkan harmoni antara ketegasan dan keluwesan. Ketegasan menjaga agar hak kedaulatan tidak tergerus, sementara keluwesan membuka ruang bagi negosiasi dan kompromi yang menguntungkan semua pihak. Pendekatan “win-win solution” dapat diwujudkan melalui kerja sama pengelolaan bersama atau joint development agreement.
Sebagai bangsa yang telah dewasa dalam berdemokrasi, Indonesia harus mampu menempatkan kepentingan jangka panjang di atas kepentingan emosional sesaat. Menghadapi Malaysia, kesadaran bahwa kedua bangsa ini adalah serumpun—memiliki kesamaan bahasa, budaya, dan sejarah—harus menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan bukan alasan untuk memutus tali silaturahmi. Modal sosial ini adalah kekuatan yang tak dimiliki semua negara, dan justru inilah yang dapat menjadi kunci penyelesaian damai.
Di balik peta, garis koordinat, dan dokumen hukum, ada arus geopolitik yang mengalir deras. Laut Sulawesi, seperti wilayah strategis lain di Indo-Pasifik, menjadi perhatian kekuatan besar dunia. Sengketa yang dibiarkan berlarut-larut akan membuka celah bagi intervensi pihak luar, baik secara langsung melalui pengerahan kekuatan militer maupun secara tidak langsung melalui tekanan ekonomi dan politik.
Presiden Prabowo, dengan pengalaman militernya, tentu paham bahwa kemenangan sejati tidak selalu diraih di medan perang. Ada kalanya, kemenangan yang paling berharga adalah yang dicapai di meja perundingan—kemenangan yang menghindarkan korban, memelihara hubungan, dan membangun masa depan yang lebih aman.
Baca juga : Membangun NKRI Dari Desa Bila Desa Terlupakan, Indonesia Raya Terancam
Di tengah pergeseran geopolitik global, menjaga hubungan harmonis antarnegara serumpun bukan hanya sebuah pilihan bijak, tetapi juga strategi pertahanan non-militer yang efektif. Menang tanpa menyakiti, damai tanpa menyerah—itulah filosofi yang seharusnya menjadi panduan dalam menyelesaikan sengketa Ambalat. Dengan memelihara perdamaian, menghormati hukum internasional, dan menguatkan rasa persaudaraan serumpun, Indonesia dan Malaysia dapat membuktikan bahwa di tengah dunia yang penuh gejolak, masih ada tempat bagi diplomasi yang berlandaskan rasa hormat dan niat baik.
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Ketua Dewan Pembina Center for Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya