Dark/Light Mode

Kutukan Wisrawa Pendakwah Genit

Selasa, 18 November 2025 07:26 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Gelombang kecaman terhadap kasus pendakwah mencium anak perempuan terus bergulir. Perilaku pendakwah muda tersebut tidak pantas dilakukan dan cenderung merusak mental anak. Kekerasan terhadap anak-anak perempuan tidak dapat ditolerir.Selain berpotensi melanggar hukum, kasus itu termasuk pelecehan martabat perempuan.

“Sebagai pendakwah seharusnya memberi teladan yang baik, Mo,” celetuk Petruk prihatin. Romo Semar tidak serta merta menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dengan bencana terjadi di berbagai daerah. Seperti bencana tanah longsor dan banjir bandang. Dampak nyata pemanasan global sudah didepan mata. Mitigasi kerusakan lingkungan harus segera diambil, untuk mencegah bencana lingkungan yang lebih besar.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan mensruput kopi pahit. Pisang rebus dan penganan tiwul, menambah nikmat sarapan di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Ramayana. Di mana, Resi Wisrawa berani berbuat tidak senonoh terhadap Dewi Sukesi.

Baca juga : Teror Jaka Maruta Di Kerajaan Mandura

Kocap kacarito. Resi Wisrawa berniat mengikuti sayembara Kerajaan Alengka untuk mencarikan jodoh putranya Danaraja. Sebagai raja muda kerajaan Lokapala, Danaraja belum sempurna sebagai raja kalau belum berumah tangga. Danaraja sudah lama memendam rasa cinta terhadap Dewi Sukesi, sekaring kedaton Kerajaan Alengka.

Bukan tanpa alasan, Danaraja minta tolong bapaknya Resi Wisrawa melamar Dewi Sukesi.Ibaratnya anak polah bapa kepradah. Sudah menjadi tanggung jawab sebagai orang tua, untuk mengawinkan anaknya. Selain itu, kedekatan Prabu Sumali sebagai raja Alengka dengan resi Wisrawa, menjadi alasan Danaraja meminang Dewi Sukesi.

Sayembara Alengka memboyong putri Alengka dibagi dua tahap. Tahap pertama adalah sayembara mengalahkan Senopati Jambu Mangli. Sedangkan tahapan berikutnya, penjabaran “Sastra Jendra Pengruwating Diyu”. Yaitu rapal sakti untuk mengubah wujud raksasa menjadi manusia lumrah. Siapa yang mampu melewati sayembara tersebut, berhak memboyong Dewi Sukesi.

Baca juga : Pro Kontra Gelar Pahlawan Kumbakarna

Resi Wisrawa berhasil mengalahkan kesaktian Jambu Mangli. Jambu Mangli tewas dengan lima panah sakti Wisrawa. Sedangkan rapal sakti “Satra Jendra Pengruwating Diyu” berhasil mengubah wujud Prabu Sumali. Prabu Sumali tadinya berwujud raksasa, berubah menjadi manusia tampan.

Dewi Sukesi mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Resi Wisrawa. Namun masih ada permintaan Sukesi kepada Wisrawa. Dewi Sukesi bersedia diboyong ke Lokapala, setelah melakukan ritual mandi dengan air suci oleh Resi Wisrawa.

Dalam sepi yang ada lali atau lupa diri. Sepasang wanita dan laki-laki dilanda birahi. Resi Wisrawa tidak kuat menahan diri terhadap kemolekan Dewi Sukesi sewaktu ritual mandi suci. Akibatnya lupa akan tujuan semula. Dewi Sukesi yang seharusnya dikawinkan kepada anaknya, malah dikawin dirinya sendiri. Perilaku genit dan menyimpang Resi Wisrawa menuai kutukan dewata.

Baca juga : Setahun Pemerintahan Puntadewa

“Kutukan terhadap Resi Wisrawa apa, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Pertama, kutukan moral, sebagai seorang resi yang seharusnya menjadi teladan, malah terlunta-lunta karena dikucilkan,” jawab Romo Semar pendek. "Selain itu, Wisrawa terkena kutukan sampai keturunannya. Ketiga anak Wisrawa dengan Dewi Sukesi berwujud raksasa, yaitu Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpa Kanaka,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.