Dark/Light Mode

Pesan Dari Kawah Jonggring Saloka

Selasa, 25 November 2025 07:52 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Gunung Merapi tidak mau kalah dengan Gunung Semeru. Hanya selang tiga hari, Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ikut-ikutan memuntahkan lava panas. Kedua gunung tersebut berfungsi sebagai penyeimbang Pulau Jawa. Kalau keduanya sudah batuk dan mengeluarkan pijaran lava, maka ada pesan khusus yang akan disampaikan kepada kita semua.

“Kira-kira pesan apa, Mo, dari Semeru dan Merapi,”? celetuk Petruk penasaran. Romo Semar memilih diam dan menghela napas panjang. Sorot matanya menunjukkan kegalauan yang mendalam. Selain waswas menghadapi bencana alam tanah longsor, Romo Semar prihatin melihat perilaku menyimpang para elite politik di negeri ini.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi tubruk. Penganan jadah bakar dan pisang rebus dibiarkan dingin di atas meja. Romo Semar memilih menikmati rokok tingwenya. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Purwa. Di mana, ketiga satria saling berebut untuk menaklukkan gunung Himalaya.

Baca juga : Kutukan Wisrawa Pendakwah Genit

Kocap kacarito, Shang Hyang Wenang adalah penguasa tiga alam. Yaitu alam para dewa, mayapada, dan alam jin. Sebagai penguasa tunggal, Shang Hyang Wenang memiliki tiga anak laki-laki. Yang pertama bernama Antaga, sedangkan yang nomor dua dinamakan Ismaya. Yang paling bontot Manik Maya. Awalnya ketiga anak hidup rukun dan saling menghormati. Namun menjelang dewasa, ketiga anak jadi-jadian tersebut mulai menampilkan watak aslinya.

Ketiga anak Shang Hyang Wenang awalnya berwujud sebutir telur yang terapung di Laut Selatan. Shang Hyang Wenang memungut telur tersebut dan disabda hingga berubah wujud manjadi manusia. Kulit telur berubah wujud bayi laki-laki yaitu bernama Antaga. Sedangkan bagian putih telur berubah wujud menjadi Ismaya. Sedangkan kuning telur berubah menjadi Manik Maya.

Antaga sebagai anak tertua merasa paling sakti dibandingkan Ismaya dan Manik Maya. Begitu pula sebaliknya, Ismaya paling kuat dan tanpa tanding. Manik Maya walaupun anak bontot, tidak terima dikatakan paling lemah atau pupuk bawang. Ketiganya membuat sayembara. Siapa yang mampu menelan gunung Himalaya, maka dialah yang paling sakti.

Baca juga : Teror Jaka Maruta Di Kerajaan Mandura

Antaga diberi kesempatan pertama untuk menaklukkan gunung Himalaya. Ternyata Antaga tidak bisa menelan besarnya gunung tersebut. Yang terjadi justru mulutnya robek dan badannya rusak. Begitu pula dengan Ismaya, tidak kuat melawan tingginya Himalaya. Badan Ismaya rusak dan pantantnya busung seperti gunung. Manik Maya belum sempat menyentuh Himalaya, keburu kakinya lumpuh.

Shang Hyang wenang marah atas perilaku anak-anaknya tersebut. Antaga diusir dari Khayangan dan diberi tugas menjadi pamong para jin. Antaga berubah nama menjadi Ki lurah Togog. Sedangkan Ismaya diberi tugas hidup di Mayapada sebagai pamong para satria luhur. Ismaya ganti nama menjadi Ki Lurah Semar. Manik Maya diperbolehkan tinggal di Khayangan dengan nama Bethara Guru.

“Pesan dari letusan Semeru dan Merapi apa, Mo?" sela Petruk tidak sabar. "Semeru dan Merapi ibarat anaknya Himalaya. Mereka terganggu kalau melihat perilaku para satria dan pemimpin menyimpang," jawab Romo Semar. "Perilaku menyimpang seperti serakah mengekploitasi alam dan bicara kasar,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.