Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Gratifikasi telah ada sejak lama. Sejak masa Khalifah Sayyidina Umar, sikap tegas terhadap praktik gratifikasi sudah ditunjukkan dengan sangat jelas.
Umar dikenal sebagai khalifah yang amat jujur dan tegas, terutama terhadap segala bentuk penyimpangan moral. Meskipun hidup sederhana dan jauh dari kemewahan, sikapnya terhadap gratifikasi sungguh luar biasa.
Baca juga : PPATK Di Masa Khalifah Umar
Dalam logika umum, pemberian tertentu kepada seorang pejabat publik—terlebih kepada seorang khalifah—sering kali dianggap wajar dan lumrah. Namun, Umar tetap konsisten dan tidak bergeming terhadap berbagai upaya pemberian gratifikasi, sekecil apa pun bentuknya.
Di antara pengalaman tersebut, Umar pernah menerima hadiah berupa selembar sajadah istimewa dari Abu Musa al-Asy’ari, Gubernur Kufah, yang juga merupakan sahabat dekatnya. Di luar dugaan, tanpa sedikit pun memperhatikan kemewahan sajadah yang dibuat khusus itu, Khalifah Umar justru melemparkannya kembali kepada Abu Musa al-Asy’ari seraya berkata dengan suara keras, “Apa yang memotivasi Anda memberikan sajadah ini? Ambil kembali, kami tidak memerlukan barang ini!”
Baca juga : Sikap Tegas Nabi Terhadap Penyimpangan Moral
Abu Musa al-Asy’ari tentu merasa kecewa, namun ia mengambil hikmah dari peristiwa tersebut: bahwa dirinya pun harus bersikap serupa terhadap para bupati yang melakukan hal yang sama kepadanya.
Pengalaman lain, Khalifah Umar pernah menerima hadiah berupa makanan istimewa dari Gubernur Azerbaijan yang dibawa oleh seorang utusan khusus. Umar menerima kiriman itu, lalu bertanya kepada sang utusan, “Apakah makanan ini biasa dikonsumsi oleh rakyat di sana?”
Baca juga : Sikap Tegas Nabi Terhadap KKN
Utusan itu menjawab, “Tidak, Baginda. Makanan ini khusus untuk kalangan atas.”
Mendengar keterangan tersebut, Khalifah Umar kembali bertanya, “Di mana untamu?” Umar kemudian meletakkan kembali makanan itu ke pelana unta seraya berkata, “Bawa kembali makanan ini kepada tuanmu dan sampaikan pesanku: ‘Takutlah kepada Allah, dan kenyangkanlah dahulu rakyatmu dengan makanan yang biasa mereka konsumsi, barulah engkau memberi hadiah kepada orang lain.’”
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.