Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Di atas langit ada langit, dan di atas puncak masih ada puncak. Di atas yang gaib terdapat Yang Maha Gaib (sirr al-asrar / the secret of the secret). Dia bukan alam, melainkan Sang Pencipta alam. Dia memiliki dua dimensi, yaitu dimensi Wahidiyyah dan dimensi Ahadiyyah.
Ilustrasinya ibarat selembar kertas yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya berisi identitas, sedangkan sisi lainnya kosong. Sisi yang berisi identitas dapat dipahami dan dijelaskan; inilah yang disebut Maqam Wahidiyyah, yang di dalamnya ditemukan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dibahas dalam artikel terdahulu (Ontologi al-A’yan al-Tsabitah).
Adapun sisi yang kosong, tanpa identitas, disebut Maqam Ahadiyyah (the Divine Nothingness/sirr al-asrar). Maqam Ahadiyyah juga sering disebut “Gudang yang Tersembunyi” (al-Kanz al-Makhfi), atau “Ghayb al-Ghuyub”, serta “Haqiqat al-Haqa’iq”. Sementara itu, Maqam Wahidiyyah dapat dipahami sebagai manifestasi sempurna (kamal al-istijla’) dari Maqam Ahadiyyah.
Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada dalam Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakikat yang menyingkapkan diri-Nya (madhahir al-asma’). Kita tidak mungkin mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah; maka Dia memperkenalkan diri-Nya melalui Maqam Wahidiyyah. Dari sini dapat dipahami bahwa 99 Nama Indah Tuhan yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna merupakan jendela untuk mengintip, mengenal, dan mendekati Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
Baca juga : Antara Denotatif dan Konotatif
“Dan Allah memiliki Asma’ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu” (QS Al-A’raf/7:180).
Manifestasi Maqam Ahadiyyah ke Maqam Wahidiyyah diterangkan dalam hadis qudsi: “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk, dan melalui-Ku mereka pun mengenal-Ku.”
Dalam beberapa kitab tasawuf dijelaskan bahwa ketika Allah SWT. “menyadari” diri-Nya (subject consciousness), maka pada saat itu muncul subjek dan objek, serta determinasi (mu’ayyan), manifestasi, dan spesifikasi. Pada tahap ini, Tuhan mengalami tanazzul (penurunan) dari kemutlakan-Nya menuju partikularisasi.
Ada yang sadar dan ada yang disadari, meskipun subjek dan objek tersebut tetap satu (tunggal). Namun, ketunggalan di sini oleh Ibnu ’Arabi disebut Ahadiyyah al-Wahid, yaitu ketunggalan relatif atau ketunggalan dari yang banyak. Berbeda dengan level Ahadiyyah, di mana Allah SWT. benar-benar berada dalam ketunggalan atau keesaan mutlak, sehingga disebut Ahadiyyah al-Ahad.
Baca juga : Teomorfisme Manusia Dan Pertolongan Tuhan
Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, keduanya tidak dapat dipisahkan. Yang satu adalah wujud eksistensi, sedangkan yang lain adalah hakikat (reality), ‘ain (entity), syay’ (thing), dan ma’lum (pengetahuan Ilahi).
Wujud dalam diri-Nya sendiri pada level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan tidak dapat diketahui (unknowable). Sedangkan pada level Wahidiyyah, Wujud dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan sejauh ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri.
Wujud Yang Maha Tinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri, tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak. Ilustrasi sederhananya: seperti ombak dengan laut, cahaya dengan matahari, serta panas dengan api.
Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, dan tidak mungkin ada panas tanpa sumber panas. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut sebagai sebab.
Baca juga : Teomorfisme Manusia
Para teolog dan kalangan arifin beranggapan bahwa dari manifestasi dan tajalli Ahadiyyah ke Wahidiyyah, dan seterusnya ke wujud aktual, merupakan pangkal permulaan makhluk. Berawal dari potensi wujud (Al-A’yan al-Tsabitah), kemudian menjelma menjadi wujud aktual (wujud al-khariji), atau biasa disebut maj’ul atau alam.
Wujud aktual ini bertingkat-tingkat, mulai dari Alam Jabarut, Alam Malakut, Alam Barzakh, hingga Alam Syahadah. Allahu a’lam.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 10 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (19) The Top of the Secret"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.