Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Hajar Aswad (batu hitam) yang berada di salah satu sudut bangunan Ka’bah memiliki banyak arti dan makna. Batu hitam berlubang itu dipasang pada ketinggian sekitar 1,10 meter dari permukaan tanah.
Dahulu, Hajar Aswad berupa satu batu utuh dengan diameter kurang lebih 30 cm. Namun, karena faktor usia, beberapa kali pemugaran Ka’bah, banjir besar pada masa Nabi Nuh yang menghancurkan bangunan awal Ka’bah, serta pencongkelan paksa oleh kelompok-kelompok tertentu dengan berbagai kepentingan, batu itu akhirnya pecah berkeping-keping.
Kini, kepingan-kepingan tersebut terpasang rapi di dalam bingkai cekung seukuran kepala manusia. Ada yang menyebutkan bahwa masih terdapat delapan keping kecil sebesar biji kurma yang tertanam di dalam bingkai Hajar Aswad.
Asal-usul Hajar Aswad disebutkan dalam hadis riwayat Imam Tirmizi. Rasulullah Saw. bersabda: “Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu. Lalu dosa-dosa Bani Adamlah yang membuatnya menjadi hitam.”
Baca juga : Ka’bah Adalah Makhluk Surga
Pendapat lain pernah dikemukakan oleh Prior-Hey, seorang geolog, yang pada tahun 1953 memublikasikan Catalog of Meteorites. Ia menyatakan bahwa Hajar Aswad kemungkinan merupakan batu meteor. Pandangan Prior-Hey merujuk pada pendapat Kahn, geolog lain yang pada tahun 1936 menyebut Hajar Aswad sebagai meteorit aerolit, yakni meteorit yang tersusun atas senyawa batuan dan tidak didominasi unsur besi serta nikel sebagaimana meteorit besi (siderit).
Pada masa Nabi Ibrahim as, beliau bersama putranya, Nabi Ismail as, memugar kembali Ka’bah dengan meninggikan bangunannya dan mengangkut batu-batu dari berbagai gunung. Setelah pembangunan hampir selesai, Nabi Ibrahim merasa masih membutuhkan sebuah batu untuk diletakkan pada salah satu sudut Ka’bah sebagai penanda bagi manusia. Nabi Ibrahim kemudian berkata kepada putranya:
“Pergilah mencari batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.”
Nabi Ismail kemudian menemukan batu tersebut. Ketika Nabi Ibrahim bertanya, “Dari mana engkau memperoleh batu ini?” Nabi Ismail menjawab: “Batu ini aku terima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).”
Setelah Hajar Aswad diletakkan di sudut dinding Ka’bah, Nabi Ibrahim mencium batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail as. Hingga kini, Hajar Aswad tidak pernah sepi dari ciuman jamaah haji dan umrah. Setiap orang yang bertawaf disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad apabila memungkinkan.
Namun, terdapat sebuah peristiwa penting yang menunjukkan sikap kehati-hatian dalam memahami makna penghormatan terhadap Hajar Aswad. Ketika Umar bin Khattab ra. mencium batu tersebut, beliau berkata:
“Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau tidak dapat mendatangkan bahaya maupun manfaat. Sekiranya aku tidak melihat Rasulullah Saw. menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”
Salah satu peristiwa tragis yang pernah menimpa Hajar Aswad adalah pencongkelan batu suci tersebut oleh pasukan Abu Thahir al-Qarmuthi, salah seorang penguasa Dinasti Qaramithah dari golongan Syiah Ismailiyah di Jazirah Arab bagian timur.
Baca juga : Makna Kejatuhan Adam-Hawa Ke Bumi
Dengan kekuatan sekitar 700 tentara bersenjata lengkap, mereka menyerbu Masjidil Haram, merusak Ka’bah, lalu mencabut dan membawa Hajar Aswad ke wilayah Ahsa’, Bahrain.
Abu Thahir kemudian menantang umat Islam dengan menyatakan bahwa Hajar Aswad hanya dapat dikembalikan apabila ditebus dengan sejumlah uang yang sangat besar atau melalui peperangan.
Setelah sekitar 22 tahun berada di luar Makkah, tepatnya pada tahun 339 H, batu tersebut akhirnya dikembalikan pada masa Khalifah Abbasiyah al-Muthi’ Lillah dengan tebusan sebesar 30.000 dinar. Batu itu sempat dibawa ke Kufah dan digantung di tiang ketujuh Masjid Jami’, sebelum akhirnya dikembalikan ke tempat semula di sudut dinding Ka’bah dalam bentuk seperti yang terlihat sekarang.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 10 Mei 2026 dengan judul "Memahami Simbol-simbol Haji (6) Hajar Aswad"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.