Dark/Light Mode

Kajian Teosofi (24)

Silaturrahim Dengan Diri Sendiri

Rabu, 15 April 2026 06:16 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam kosmologi Islam, manusia disebut mikrokosmos karena semua unsur makrokosmos, termasuk substansi makhluk spiritual seperti malaikat dan jin, tersimpul di dalam diri manusia. Itulah sebabnya Allah SWT menyebut manusia sebagai makhluk termulia (ahsan taqwim/QS At-Tin [95]: 4). Allah SWT benar-benar memuliakan semua anak cucu Adam (wa laqad karramna bani Adam/QS Al-Isra’ [17]: 70).

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “kedua tangan” Tuhan, sementara makhluk lain diciptakan dengan satu “tangan” (khalaqtu bi yadayya/QS Shad [38]: 75), serta satu-satunya makhluk yang ditiupkan roh-Nya ke dalam dirinya (wa nafakhtu fihi min ruhi/QS Al-Hijr [15]: 29).

Diri manusia diciptakan berlapis-lapis, dan setiap lapisannya merepresentasikan lapisan-lapisan alam. Dengan kata lain, manusia juga merepresentasikan berbagai alam: alam syahadah (fisik), alam mitsal (barzakh), alam malakut, al-a‘yan al-tsabitah, hingga derajat Wahidiyyah dan Ahadiyyah.

Karena itu, dalam Surah al-Fatihah disebutkan: iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Ayat ini menggunakan lafaz jamak “kami” (nahnu) sebagai isyarat bahwa yang menyembah adalah keseluruhan lapisan dalam diri manusia.

Dalam ayat lain di surah yang sama disebutkan bahwa yang disembah adalah Tuhan seluruh alam (Rabb al-‘alamin). Ini menunjukkan bahwa alam bukan hanya satu, melainkan banyak, yang keseluruhannya berkorespondensi dengan totalitas unsur-unsur dalam diri manusia.

Baca juga : Bersilaturahim dengan Makhluk Spiritual

Silaturrahim antar lapisan dalam diri manusia sangat penting, bahkan bisa lebih mendasar daripada hubungan eksternal.

Sulit dibayangkan seseorang dapat menjalin silaturrahim dengan makhluk lain secara sempurna jika di dalam dirinya sendiri tidak solid. Diri yang berantakan—yakni tidak terjadi sinkronisasi dan harmoni antara badan (body), jiwa (soul), dan roh (spirit)—tidak mungkin tampil sebagai hamba sejati, apalagi sebagai khalifah.

Seruan untuk menjalin silaturrahim internal ini diisyaratkan dalam beberapa ayat, antara lain:

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Tidakkah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah [2]: 44).

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS Al-Najm [53]: 32).

Baca juga : Bersilaturrahim Dengan Binatang

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari dirimu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum [30]: 21).

Ayat terakhir ini sering ditujukan kepada pasangan suami-istri, tetapi sesungguhnya juga dapat dimaknai sebagai pasangan-pasangan dalam diri sendiri. Justru pasangan dalam diri inilah yang harus terlebih dahulu hidup dalam keadaan sakinah dan mawaddah sebelum seseorang mampu mewujudkannya dalam relasi dengan orang lain.

Perhatikan pula ayat tentang perjanjian primordial manusia dengan Tuhan:

“Alastu bi rabbikum? Qalu bala syahidna… (Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul, kami bersaksi)”. (QS Al-A‘raf [7]: 172).

Ayat ini menggunakan kata ganti jamak (kum dan nahnu), yang menunjukkan bahwa di dalam diri manusia terdapat berbagai unsur yang harus selaras dan solid.

Baca juga : Pariwisata Tumbuh Positif, Kunjungan Wisman Dan Wisnus Meroket

Sedemikian pentingnya silaturrahim internal ini sehingga Allah menegaskan perlunya bersikap adil terhadap diri sendiri (QS al-Nisa’ [4]: 135). Perhatikan pula doa Nabi Musa: “Rabbi inni zalamtu nafsi faghfir li (Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku)”. (QS Al-Qashash [28]: 16).

Kita pun kerap berlaku tidak adil dan bahkan menganiaya unsur-unsur dalam diri kita sendiri. Karena itu Allah mengingatkan: “Wa fi anfusikum afala tubshirun? (Dan pada dirimu sendiri, tidakkah kamu memperhatikan?)”. (QS Al-Dzariyat [51]: 21).

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 15 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (24) Silaturrahim Dengan Diri Sendiri"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.