Dark/Light Mode

Memahami Simbol-Simbol Haji (8)

Asal-Usul Ka’bah

Sabtu, 16 Mei 2026 05:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada apa sesungguhnya di dalam Ka’bah? Bangunan suci berbentuk kubus dengan tinggi sekitar 11,03 meter dan ukuran sisi 11,03 m x 12,62 m yang terletak di tengah Masjidil Haram ini masih menyimpan banyak misteri.

Banyak orang penasaran ingin mengetahui apa dan bagaimana bagian dalam Ka’bah yang menjadi kiblat peribadatan umat Islam sedunia.

Apakah di dalamnya terdapat bangunan antik, benda-benda bersejarah, makam, atau benda-benda lain yang asing dari dunia manusia? Mengapa pintunya terbuat dari emas? Mengapa tidak dibuka setiap saat dan hanya dibuka pada kesempatan tertentu saja? Apakah ada dalil yang melarang membuka atau mengungkap isi Ka’bah?

Ketika pertama kali penulis memasuki Ka’bah (saat itu bersama Presiden SBY), ternyata bagian dalam Ka’bah sesungguhnya sangat sederhana.

Hanya ada sebuah meja kecil setinggi lutut sebagai tempat lampu rechargeable untuk menerangi ruangan yang gelap.

Di dalamnya tidak terdapat AC ataupun kipas angin. Satu-satunya jalan masuk udara hanyalah pintu ketika sedang dibuka.

Baca juga : Thawaf

Tidak ada barang antik, lukisan, ukiran, ataupun kesan mewah di dalamnya. Justru dalam kehampaan itu, ketika tidak ada apa-apa selain ruang kosong, hati terasa semakin merinding.

Di dalam Ka’bah, kita dapat melaksanakan shalat ke segala arah. Kita bisa menghadap ke seluruh sisi temboknya. Di sinilah letak keagungan Ka’bah. Di tengah kekosongannya, manusia diajak untuk mengosongkan diri, sebagaimana kosongnya bagian dalam Ka’bah itu sendiri.

Tidak adanya kesan mewah di dalamnya memberikan pesan tentang pentingnya melepaskan segala kemewahan duniawi ketika menghadap hadirat Allah Swt.

Seandainya terdapat benda-benda sakral atau ornamen yang mencolok perhatian para pengunjung, tentu hal itu dapat mengganggu kekhusyukan ibadah di dalamnya.

Berbeda halnya ketika penulis mendampingi Presiden Prabowo beberapa bulan lalu. Ka’bah sudah mengalami sedikit perubahan interior. Di dalamnya terdapat sentuhan dekorasi dan aksesori.

Lampu warna-warni bergelantungan di bagian atas dengan cahaya yang lebih terang. Hanya saja, pendingin ruangan masih didatangkan dari luar.

Baca juga : Hajar Aswad

Setelah rombongan Presiden keluar, keesokan harinya AC setinggi lemari itu kembali dikeluarkan.

Walaupun waktunya lebih singkat, sekitar 30 menit berada di dalam Ka’bah, lekuk-lekuk bagian dalam Ka’bah terlihat lebih jelas.

Berbeda ketika dahulu bersama Presiden SBY, tanpa AC tetapi rombongan berada lebih lama di dalamnya, sekitar satu jam.

Ka’bah pertama kali dibangun atas permohonan Adam dan Hawa ketika keduanya baru saja diturunkan ke bumi penderitaan dari surga kenikmatan sebagai akibat pelanggaran terhadap perintah Allah, yaitu mendekati buah terlarang.

Ka’bah dibangun sebagai miniatur Baitul Makmur, sedangkan Baitul Makmur sendiri merupakan miniatur ‘Arasy, singgasana Tuhan.

Ka’bah dibangun di Mekkah oleh para malaikat atas perintah Allah untuk memenuhi permohonan Adam dan Hawa agar dibangunkan rumah pertobatan di bumi.

Baca juga : Ka’bah Adalah Makhluk Surga

Adam dan Hawa mengenal fungsi rumah pertobatan ketika keduanya bersama para malaikat melakukan thawaf di Baitul Makmur.

Sebagaimana diketahui, para malaikat pernah merasa “berjarak” dengan Tuhan ketika mempertanyakan kebijakan-Nya tentang rencana penciptaan manusia, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah (2:30).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan menyucikan-Mu?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”

Menanggapi firman Tuhan tersebut, para malaikat menyesali kelancangannya mempertanyakan kebijakan Allah. Mereka kemudian berthawaf mengelilingi ‘Arasy selama berhari-hari sambil menangis dan memohon ampun.

Pada suatu saat, Allah menyapa para malaikat dan memerintahkan mereka berpindah ke Baitul Makmur, miniatur ‘Arasy yang dibangun di bawah ‘Arasy. Di situlah nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, ikut berthawaf bersama para malaikat dan jin.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 16 Mei 2026 dengan judul "Memahami Simbol-Simbol Haji (8) Asal-Usul Ka’bah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.