Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sebuah drama biasanya terdapat sutradara, pemain atau pemeran utama, pemeran pembantu, lokasi, dan waktu pementasan. Pertunjukan drama kosmik diperankan oleh malaikat, jin, setan, manusia, dan binatang, dengan mengambil lokasi di ‘Arasy, Baitul Ma’mur, bumi, alam barzakh, surga, dan neraka. Adapun yang bertindak sebagai pemeran utama ialah Adam, Hawa, Ibrahim, Ismail, dan iblis. Sementara itu, yang bertindak sebagai Sutradara tidak lain adalah Allah SWT.
Ibadah haji sarat dengan berbagai makna simbolis. Haji tidak dapat dimaknai hanya sebagai ibadah ritual pelengkap rukun Islam, tetapi harus dipahami sebagai ibadah yang bersifat holistik dan universal, yang pada hakikatnya juga dilakukan oleh makhluk lain selain manusia.
Haji dapat dilukiskan sebagai drama kosmos yang menggambarkan hubungan interaktif antara alam semesta sebagai makrokosmos dan manusia sebagai makhluk mikrokosmos.
Kisah ini berawal ketika Allah SWT mengumumkan rencana-Nya untuk menciptakan makhluk baru dalam jagat makrokosmos, yaitu manusia. Para malaikat kemudian mempertanyakan kebijakan tersebut dengan berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan-Mu?” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al-Baqarah [2]: 30).
Baca juga : Silaturahim dengan Rasulullah
Menanggapi firman Allah SWT tersebut, para malaikat, termasuk ‘Azazil (nama iblis sebelum dikutuk), menyesali kelancangannya dalam mempertanyakan kebijakan Allah. Penyesalan itu ditandai dengan thawaf mengelilingi ‘Arasy selama berhari-hari sambil menangis. Kemudian Allah SWT memerintahkan mereka untuk berpindah ke Baitul Ma’mur, yang merupakan miniatur ‘Arasy dan dibangun tepat di bawahnya. Di tempat itulah nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, ikut berthawaf bersama para malaikat dan jin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.