Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Berita utama di halaman satu Koran Rakyat Merdeka edisi 16 Mei 2026 menulis, “1 WNA Diisolasi di RS Sulianti Saroso - Hantavirus Tak Mudah Menular Antar Manusia”. Kita tahu, selain kasus WNA itu, sejak 13 Mei 2026 beberapa media massa memberitakan tentang kematian satu warga kita di Ketapang, Kalimantan Barat akibat hantavirus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang yang dikonfirmasi media pada 13 Mei 2026 menjelaskan, pasien sempat menjalani perawatan di RSUD dr Agoessdjam Ketapang dan meninggal dunia. Disebutkan juga, diagnosis hantavirus baru tegak setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BBLKL) Salatiga, Jawa Tengah.
Tentu kita berduka atas wafatnya warga kita di Ketapang akibat infeksi hantavirus ini. Dalam hal ini, setidaknya ada empat hal yang dapat kita analisa selanjutnya.
Pertama, kita ketahui ada setidaknya dua kelompok jenis hantavirus. Pertama, yang beredar di kawasan Amerika dan dapat menimbulkan keadaan berat seperti “Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)” atau kadang disebut juga “Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS)”.
Baca juga : Konsorsium Ilmu Biomedis
Kedua, yang beredar di Asia dan Eropa yang dapat menimbulkan keadaan seperti demam berdarah dan kelainan ginjal, atau “Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)”. Sehubungan dengan hal ini, akan baik bila dijelaskan bagaimana perjalanan penyakit pada kasus yang meninggal di Ketapang tersebut. Apakah memang ada HFRS atau situasi medik lain, sehingga pemahaman kita menjadi lebih utuh. Kita ketahui, laporan WHO juga selalu menjelaskan secara cukup rinci bagaimana perkembangan klinis pasien hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang menjadi pemberitaan dunia hingga kini.
Kedua, laman WHO memang menyebutkan infeksi hantavirus dapat menimbulkan kematian pada pasiennya. Angka kematian pada mereka yang terinfeksi hantavirus jenis Asia dan Eropa berkisar antara 1 hingga 15 persen.
Angka ini sejalan dengan tulisan di Rakyat Merdeka RM.id edisi 12 Mei 2026 yang menulis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus positif hantavirus di Indonesia mencapai 23 orang sepanjang 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Artinya, angka kematian hantavirus di negara kita sekitar 13 persen, cukup tinggi juga, termasuk kasus di Ketapang ini.
Hal ketiga, akan baik bila disampaikan juga tentang strain atau jenis hantavirus yang menyerang warga kita di Ketapang itu.
Baca juga : “Capping Day” dan Hari Perawat Internasional
Laman Kemenkes pada 11 Mei 2026 menuliskan, kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe “Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)” dengan strain “Seoul Virus”. Selain itu, kita ketahui di negara kita pernah pula ditemukan strain hantavirus lain, yaitu “Serang Virus”, sebagaimana dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Viruses tahun 2019 berjudul “A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus”.
Salah satu penulis artikel itu adalah peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), tempat saya pernah menjadi Kepala Balitbangkes beberapa tahun lalu. Selain itu, di Semarang juga pernah ditemukan antibodi IgM terhadap strain lain, yaitu Puumala Hantavirus. Tentu akan baik bila ada penjelasan hasil analisa genomik terhadap kasus di Ketapang ini, apakah memang Seoul Virus atau kemungkinan jenis lain.
Hal keempat yang perlu digarisbawahi adalah pentingnya pendekatan Satu Kesehatan (One Health) dalam pengendalian hantavirus, penyakit yang kita ketahui menular dari tikus. Berita media massa sejak 13 Mei 2026 menuliskan Kepala Dinas Kesehatan Ketapang menyatakan hasil pemeriksaan terhadap warga di sekitar lokasi tidak menemukan kasus positif lain. Hal ini tentu berhubungan dengan kegiatan penyelidikan epidemiologi yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat untuk mengantisipasi kemungkinan penularan.
Nah, karena hantavirus menular dari tikus, maka sebaiknya analisa tidak hanya dilakukan pada warga di sekitar pasien, tetapi juga pada tikus dan lingkungan sekitarnya. Ini konsep dasar Satu Kesehatan (One Health), yaitu kerja bersama kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.
Baca juga : SIM Keliling Kabupaten Bogor Selasa 5 Mei, Hadir di Mall Cileungsi
Mudah-mudahan momentum hantavirus ini dapat menggalakkan kegiatan dan program Satu Kesehatan (One Health) di negara kita, karena kita tahu banyak sekali penyakit menular yang bersumber dari binatang (zoonosis). Selain itu, kita juga harus mengantisipasi perubahan iklim, termasuk El Nino Godzilla, yang akan melanda.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta mantan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024-PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.