Dark/Light Mode

Idul Adha Dan Memperingati Lahirnya Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Senin, 25 Mei 2026 06:56 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Dengan demikian nilai-nilai Idul Adha dan Pancasila pada akhirnya bertemu dalam satu titik penting, yakni tentang pengorbanan demi kepen­tingan yang lebih besar. Dalam ke­hidupan bernegara, pengorbanan itu dapat dimaknai sebagai ke­sediaan elite politik untuk ­menempatkan kepen­tingan bangsa di atas kepen­tingan kekuasaan jangka pendek.

Pengorbanan itu juga berarti keberanian pemerintah dan masyarakat untuk menjaga persatuan nasional di tengah godaan politik identitas, ekstremisme, dan pragmatisme politik yang semakin menguat. Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang tidak hanya cerdas secara teknokratis, tetapi juga memiliki keteladanan moral dan visi kebangsaan yang kuat.

Baca juga : Hut Ke 61 Lemhannas RI: Membumikan Falsafah Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Dan Kajian Di Lemhannas Ri

Karena itu, peringatan Idul Adha dan Hari Lahir Panca­sila semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan semata. Kedua momentum ini ha­rus menjadi ruang refleksi nasional tentang bagaimana Indonesia membangun masa depan yang lebih berkeadilan, berdaulat, dan berkepri­badian. ­Pem­bangunan nasional tidak cukup hanya ­di­ukur dari per­tumbuhan ­eko­nomi, ­pem­bangunan infrastruk­tur, atau capaian investasi.

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, bangsa-bangsa yang mampu bertahan bukan hanya bangsa yang unggul secara ekonomi atau militer, tetapi juga bangsa yang memiliki fondasi nilai yang kuat. Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar itu melalui Pancasila dan nilai-nilai religius yang hidup dalam masyarakatnya.

Baca juga : Strategi Kebijaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Demokrasi Pancasila

Idul Adha mengajarkan keikhlasan dan solidaritas sosial, sementara itu Pancasila memberikan arah kebangsaan dan filosofi hidup bersama. Ketika keduanya dipadukan dalam praktik kehidupan nasional, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan moral dan peradaban di tengah dunia yang sedang mengalami krisis arah.

Bangsa ini membutuhkan jiwa kebangsaan yang tetap hidup, moralitas publik yang kuat, serta keberanian untuk menjaga arah peradaban sesuai ­cita-cita para pendiri bangsa. Sebab hanya dengan itulah Indonesia dapat tetap berdiri teguh ­sebagai ­bangsa besar –bangsa yang tidak kehilangan identitasnya di ­tengah perubahan dunia.

Baca juga : Membentuk Perwira Gen Z Untuk TNI Tangguh

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.