Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Menjembatani Geografi: Prospek Kerja Sama ASEAN-Uni Ekonomi Eurasia (EAEU)
Kamis, 13 Agustus 2026 22:38 WIB
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)
Dinamika Geografi dan Kebutuhan Kawasan
RM.id Rakyat Merdeka - Komisi Ekonomi Eurasia (EEC) dan Sekretariat ASEAN mengadakan pertemuan guna membahas sinkronisasi sistem regulasi teknis pada akhir Juli 2026 (Eurasian Economic Commission [EEC], 2026). Pembahasan mengenai kerangka aturan teknis dan penyamaan standar ini merupakan fondasi penting dalam arsitektur perdagangan internasional. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mengkaji standar kelayakan untuk komoditas sehari-hari, meliputi alat kelistrikan, produk industri ringan, karet, serta komoditas pangan seperti teh, kopi, dan makanan olahan laut. Penyelarasan regulasi teknis ini relevan untuk menciptakan kesetaraan perlakuan dalam perdagangan antarnegara, yang menjadi prasyarat awal menuju integrasi kawasan dan perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif (Vinokurov, 2017).
Konstelasi geopolitik dan geoekonomi internasional tidak terlepas dari faktor kondisi geografis. Marshall (2015) menjelaskan bahwa bentang alam suatu negara, termasuk akses terhadap jalur laut dan batas alamnya, memengaruhi arah kebijakan politik dan ekonomi suatu wilayah. Pandangan fundamental ini relevan untuk menganalisis kedekatan diplomatik antara EAEU dan ASEAN. Mayoritas negara anggota EAEU (Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan) memiliki wilayah daratan yang luas, namun berstatus terkurung daratan (landlocked) dan tidak memiliki akses langsung ke pelabuhan perairan hangat sepanjang tahun (Marshall, 2015).
Kondisi geografis yang relatif terisolasi tersebut membatasi total volume perdagangan global blok EAEU. Sebagai respons terhadap tantangan fisik ini, EAEU memperluas jangkauan pasar dan orientasi ekonominya ke wilayah selatan dan timur, khususnya kawasan Asia Pasifik. Sebaliknya, letak geografis ASEAN berada di persimpangan jalur pelayaran utama dunia, seperti Selat Malaka, yang memberikan akses perdagangan maritim secara luas. Namun, posisi terbuka ini juga menempatkan kawasan Asia Tenggara pada risiko kerentanan terhadap dinamika geopolitik global dan ketergantungan pada beberapa negara dengan ekonomi besar, seperti Amerika Serikat dan China (Koldunova, 2017).
Perkembangan Kerja Sama ASEAN-EAEU di Sektor Energi dan Barang/Jasa
Kerja sama ekonomi lintas benua dengan EAEU ditujukan untuk mendukung kemandirian negara-negara ASEAN dalam mengamankan pasokan barang, energi, dan kebutuhan agrikultur (Kanaev & Korolev, 2018). Diversifikasi rantai pasok ini merupakan langkah mitigasi strategis terhadap potensi disrupsi pada pasar global. Implementasi kerja sama ini ditunjukkan melalui peningkatan volume perdagangan secara kuantitatif. Berdasarkan data statistik, volume perdagangan bilateral antara EAEU dan negara-negara ASEAN mencapai angka lebih dari 27 miliar dolar AS pada tahun 2023 (ASEAN Secretariat, 2024). Secara spesifik, nilai perdagangan antara Rusia dan ASEAN pada periode yang sama tercatat sebesar 22 miliar dolar AS, menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Lingkup kerja sama pada sektor riil juga tercatat dalam beberapa indikator ekonomi nasional. Guna mendukung ketahanan energi domestik di tengah dinamika perekonomian global, nilai impor bahan bakar mineral dan minyak mentah Indonesia dari Rusia tercatat sebesar 1,76 miliar dolar AS pada tahun 2025 (Badan Pusat Statistik [BPS], 2026). Tren serupa juga terlihat di Vietnam, di mana total perdagangan bilateral dengan Rusia sepanjang tahun 2024 bernilai 4,59 miliar dolar AS, meningkat sebesar 26,4 persen dari tahun 2023 (General Statistics Office of Vietnam, 2025). Dari total nilai perdagangan tersebut, ekspor Vietnam menyumbang 2,34 miliar dolar AS (meningkat 34,5 persen), sementara impor dari Rusia bernilai 2,25 miliar dolar AS, yang menghasilkan surplus neraca perdagangan bagi Vietnam sebesar 90,3 juta dolar AS. Selain pada sektor perdagangan komoditas, kerja sama Vietnam dan Rusia mencakup pengembangan infrastruktur energi melalui kelanjutan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Ninh Thuan 1. Proyek ini menggunakan dukungan teknologi mutakhir Rusia dan rancangan reaktor yang ditargetkan untuk menghasilkan kapasitas listrik terpasang sebesar 2.400 megawatt (MW).
Peluang Sektor Pertanian, Pangan dan Kendala Implementasi
Baca juga : Dubes Witjaksono Adji Hadirkan Kuliner Nusantara Di Perayaan ASEAN Day
Peluang keberlanjutan hubungan dagang antara ASEAN dan EAEU didukung oleh karakteristik komoditas kedua kawasan yang saling melengkapi (komplementer) dan tidak bersaing secara langsung. EAEU berkapasitas sebagai pemasok komoditas primer industri, termasuk energi, gandum kualitas tinggi, mesin berat, permesinan pertanian, serta pupuk dalam skala besar. Sebaliknya, ASEAN berfokus pada ekspor produk agrikultur seperti minyak kelapa sawit dan karet mentah, disertai dengan komoditas hasil laut, biji kopi, teh, pakaian, tekstil, dan barang manufaktur ringan.
Komplementaritas sumber daya ini memfasilitasi kelancaran pemenuhan kebutuhan bahan baku domestik, khususnya di sektor pangan dan pertanian. Bagi Indonesia, skema kerja sama logistik ini berfungsi untuk mendukung stabilitas kebutuhan nasional. Total nilai perdagangan antara Indonesia dan Rusia pada akhir tahun 2024 mencapai 4 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 11 persen dibandingkan nilai total perdagangan pada tahun 2023 yang berada di kisaran 3,6 miliar dolar AS (Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, 2025). Untuk pasokan agrikultur, statistik tahun 2024 mencatat bahwa Indonesia mengimpor pupuk dari Rusia senilai 451 juta dolar AS, serta mendatangkan pasokan pupuk dari Belarus dengan nilai sekitar 66,7 juta dolar AS (BPS, 2025).
Hubungan ekonomi Indonesia dengan Belarus juga menunjukkan peningkatan di luar sektor pupuk kimia. Pada kurun waktu 2023, Indonesia secara konsisten mengimpor produk susu bubuk padat dari Belarus dengan akumulasi nilai mencapai 11,8 juta dolar AS. Langkah strategis diversifikasi rantai pasok dalam mendatangkan komoditas pangan esensial ini dinilai relevan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat. Stabilitas logistik pangan di tingkat akar rumput juga berpotensi memfasilitasi unit-unit Koperasi Desa Merah Putih dalam mengelola dan memberdayakan kapasitas perekonomian lokal.
Kepercayaan terhadap aktivitas bisnis lintas benua ini terlihat dari pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA). Data realisasi investasi mencatat bahwa penanaman modal Belarus ke Indonesia mengalami lonjakan hingga 2.620 persen, mencapai 4,1 juta dolar AS pada akhir tahun 2023 (Kementerian Investasi/BKPM, 2024). Modal tersebut dialokasikan pada sejumlah sektor padat modal; 65,1 persen diarahkan untuk pengembangan kawasan hunian, kawasan industri terpadu, serta fasilitas perkantoran. Sisa modal investasi didistribusikan untuk sektor layanan profesional, serta sektor perdagangan dan perbaikan operasional.
Walaupun potensi ekonomi secara kuantitatif terlihat menjanjikan, implementasi kerja sama ini dihadapkan pada sejumlah kendala faktual. Tantangan utama adalah rentang jarak geografis antarwilayah yang mengharuskan penggunaan rute pelayaran panjang. Hal ini berimplikasi pada proses distribusi logistik yang sering kali kompleks dan tingginya biaya beban transportasi yang berisiko memangkas margin pendapatan. Tantangan fundamental kedua adalah perbedaan budaya birokrasi dan kendala institusional. Upaya negosiasi untuk menyatukan dua sistem hukum dari dua kultur administrasi berbeda kerap memakan waktu yang lama. Proses adaptasi ini kadang menghasilkan urusan administrasi kepabeanan yang cenderung tumpang tindih dan merepotkan pelaku industri.
Tantangan strategis ketiga berkaitan erat dengan turbulensi sistem keuangan global dan imbas geopolitik. Ketentuan sanksi ekonomi yang berlaku terhadap beberapa negara utama poros EAEU meningkatkan tingkat risiko fluktuasi mata uang ke level yang cukup sensitif. Sentimen ini mengharuskan sejumlah besar korporasi multinasional dan institusi finansial di ASEAN untuk memasang sikap yang jauh lebih berhati-hati sebelum menuntaskan kesepakatan bernilai masif. Terakhir, tingkat kekompakan serta soliditas konsensus di dalam internal blok EAEU sendiri kadang masih membebani pekerjaan institusional. Negara-negara anggotanya terbukti memiliki ukuran kapasitas ekonomi dan prioritas kebijakan ekonomi makro yang berbeda. Mereka juga dituntut secara politis untuk menyeimbangkan komitmen strategis internal tersebut dengan keikutsertaan mereka dalam berbagai proyek kerja sama raksasa di kawasan, seperti inisiatif rantai pasok dalam Belt and Road Initiative yang dinakhodai oleh China. Jadi, inisiatif diplomatik mengenai penyelarasan regulasi teknis antarwilayah ini merupakan pijakan awal yang positif. Namun, jalan menuju tercapainya draf perjanjian perdagangan bebas yang inklusif tetap membutuhkan komitmen kerja keras serta konsistensi negosiasi tingkat tinggi antara pemimpin dan birokrasi di bawahnya. Hal ini diharapkan mampu membereskan kerumitan dalam urusan logistik, birokrasi antarlembaga, serta dinamika persaingan geopolitik dan geoekonomi saat ini.
Baca juga : Dubes Muhsin Syihab Jadi Tuan Rumah Perayaan ASEAN Day
Adri Arlan Sinaga
Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional di University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: [email protected]
Daftar Referensi
ASEAN Secretariat. (2024). ASEAN Statistical Yearbook 2023. ASEAN Secretariat.
Badan Pusat Statistik [BPS]. (2025). Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Impor 2024. BPS.
Badan Pusat Statistik [BPS]. (2026). Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Impor 2025. BPS.
Eurasian Economic Commission [EEC]. (2026). Report on Technical Regulations and Standardization. Eurasian Economic Commission.
General Statistics Office of Vietnam. (2025). Statistical Yearbook of Vietnam 2024. Statistical Publishing House.
Baca juga : Timnas Bisa Turunkan Skuad Terbaik di FIFA ASEAN Cup 2026
Kanaev, E., & Korolev, A. (2018). Reenergizing the Russia–ASEAN relationship: The Eurasian opportunity. Asian Politics & Policy, 10(4), 732–751. https://doi.org/10.1111/aspp.12423
Kementerian Investasi/BKPM. (2024). Laporan Realisasi Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) 2023. Kementerian Investasi/BKPM.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2025). Laporan Kinerja Perdagangan Internasional 2024. Kementerian Perdagangan RI.
Koldunova, E. (2017). Russia and ASEAN: Is the partnership working?. Asian Politics & Policy, 9(3), 443–461. https://doi.org/10.1111/aspp.12323
Marshall, T. (2015). Prisoners of geography: Ten maps that explain everything about the world. Elliott & Thompson.
Vinokurov, E. (2017). Eurasian Economic Union: Current state and preliminary results. Russian Journal of Economics, 3(1), 54–70. https://doi.org/10.1016/j.ruje.2017.02.004
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya