Dark/Light Mode

Legitnya Klepon di Saat Pandemi

Senin, 27 Juli 2020 05:20 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Klepon merupakan jajanan tradisional sangat populer di Indonesia. Konon klepon merupakan jarwa dosok dari kata “kloping roso nusantara”. Klepon dibuat dari tepung beras ketan yang memiliki makna sebagai perekat silaturahmi. Rasanya manis, gurih dan legit dapat menumbuhkan semangat gotong royong. Klepon sebelum disajikan ditaburi parutan kelapa putih dan gula merah. Paduan warna kelapa putih dan gula merah menggambarkan pusaka bendera merah putih. 

“Klepon halal atau haram, Mo?” celetuk Petruk penasaran. Semar hanya mesem tidak komentar. Kopi pahit dan penganan tiwul tidak sempat disentuhnya. Kepulan asap rokok klobot tidak mampu mengusir kegalauan pikiran Romo Semar. Semar sedang galau melihat perilaku “kagetan” pegiat medsos akhir-akhir ini. Banyak tokoh yang seharusnya jadi panutan malah menyebar fitnah. Media sosial seharusnya menjadi “tuntunan” dalam penyebaran informasi malah dijadikan “tontonan” tidak bermutu. Semar jadi teringat saat menjadi pamongnya Harjuna. Sebagai pamong satria luhur, Semar berkewajiban mengingatkan satria yang lupa diri.

Berita Terkait : Dinasti Politik Durgandini

Kocap kacarito, Dewi Kunti minta Harjuna mencari keberadaan kakaknya Bima. Sudah hampir satu bulan Bima pergi tanpa pamit. Kekhawatiran Ibu Kunti merupakan naluri seorang ibu tidak ingin ada sesuatu menimpa terhadap anak-anaknya Pandawa. Apalagi saat itu sedang terjadi pergolakan politik di Mandura di mana leluhur Dewi Kunti berasal. Prabu Basudewa raja Mandura sedang digoyang isu pemakzulan oleh pendukung Kangsadewa. Para pendukung Basudewa kini berubah haluan menyerang kebijakan kerajaan dan bersatu dengan partai Kangsadewa.

Harjuna berangkat mencari Bima ditemani para punakawan. Keluar masuk hutan mencari keberadaan Bima bukan perkara mudah. Kelangenan Bima adalah mencari ilmu untuk menambah kesaktiannya. Di mana ada brahmana sakti dan mandraguna, Bima ingin berguru kepadanya. Berbeda dengan Harjuna yang memiliki hobi memburu musuh dan wanita. D imana ada musuh sakti Harjuna harus dapat mengalahkannya. Begitu pula dengan wanita, di mana ada wanita jelita Harjuna penasaran kalau belum mendapatkannya.

Berita Terkait : Saktinya Buronan Kurawa

Perjalanan panjang Harjuna cukup melelahkan. Harjuna memilih istirahat sebelum memasuki tapal batas kerajaan Mandura. Hal ini untuk memulihkan tenaganya sebelum ketemu Bima. Harjuna minta Punakawan mencari makanan karena sudah beberapa hari ini menahan lapar dan dahaga. Punakawan keliling kampung untuk mencari makanan dari penduduk setempat. 

Dewi Sumbodro merasa iba melihat para punakawan mencari sesuap nasi untuk bendaranya. Sumbadra memberi sebakul nasi komplit dengan sayur urap dan buah pisang. Betapa bahagianya para punakawan mendapatkan makanan untuk dipersembahkan Harjuna. Namun tidak demikian dengan Semar. Semar justru marah dengan sikap dan watak Harjuna. Sebagai seorang satria tidak sepantasnya Harjuna tidak kuat menahan nafsu lapar. Apalagi tugas yang diembannya belum selesai. 

Berita Terkait : Prabowo Bisa Salip Luhut

“Lalu apa hubungannya dengan jajanan Klepon, Mo?” tanya Petruk penasaran. “Sama-sama godaan makanan. Harjuna tidak tahan menghadapi godaan lapar, sedangkan para pegiat medsos tidak tahan dengan godaan klepon. Klepon digunakan untuk memecah belah akidah,” jawab Semar tegas. Agama dan budaya ibarat sepasang rel kereta api. Agama dan kearifan budaya jangan dibenturkan. Seperti halnya klepon dan kurma. Justru sebaliknya dijadikan inovasi kuliner nusantara. Klepon gula merah dari kurma, selain manis dan legit dapat menciptakan peluang bisnis kecil yang andal. Oye