Dark/Light Mode

Etika Politik Dalam Al-Qur’an (27)

Menimbang Aspek Kontinuitas Dan Orisinalitas

Minggu, 24 Februari 2019 06:56 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Al-Qur’an juga sejak awal menyerukan pentingnya memelihara kontinuitas budaya dan peradaban. Segala sesuatu yang positif pada umat-umat terdahulu harus dilestarikan, karena dengan tegas dikatakan: “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” ( la nufarriq baina ahadin min rusulih). (Q.S. Al-Baqarah/2:285).

Dengan demikian, pola imitative budaya dan peradaban dalam Islam harus dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Mungkin inilah yang dipopulerkan Umar ibn Khaththab sebagai bid’ah hassanah, sebuah kelanjutan tradisi yang konstruktif.

Baca juga : Belajar Dari Terobosan Nabi Yusuf

Jika kita berbicara tentang kebudayaan dan peradaban Islam berarti kita berbicara tentang tradisi luhur kemanusiaan yang diwarisi secara kumulatif dari zaman ke zaman. Kebudayaan dan peradaban (civilization/Al-Hadharah) Islam bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dengan budaya dan peradaban sebelumnya.

Soal kehadiran Islam memberikan corak dan warna baru memang ia dan hal ini sulit diingkari. Di manapun dan sejak kapapun dalam lintasan sejarah kemanusiaan, selalu ada sintesa dan imitasi budaya dan peradaban.

Baca juga : Berangkat Dari Asas Universal

Hal ini lumrah dan wajar, karena bukankah pada mulanya anak manusia ini berasal dari sepasang kakek dan nenek (Adam dan Hawa)? Peta budaya dan peradaban kemanusiaan dari zaman ke zaman memiliki nilai-nilai universal di samping nilai-nilai lokalnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.