Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mengembangkan Sikap Futuwwah

Senin, 3 Agustus 2020 08:49 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - FUTUWWAH berasal dari akar kata fatiyayafta, berarti memberikan kemudahan. Secara populer, futuwwah sering diartikan sebagai sikap kedermawanan seseorang. Dalam Islam, banyak figur sering dijuluki berkepribadian futuwwah, misalnya Nabi Muhammad SAW. Ia masih bisa membelah sebiji korma untuk dibagi kepada orang lain.

Sifat ini diikuti oleh para sahabatnya seperti Umar Ibn Khaththab yang menggendong sendiri gandum pemberian pribadinya ke fakir miskin. Utsman bin ’Affan pernah menghabiskan hartanya untuk membiayai pengungsi Mekkah yang mau ke Madinah. Mungkin di sekitar kita juga masih banyak contoh.

Berita Terkait : Dimensi Cultural Right Di Dalam Penafsiran Teks Kitab Suci (2)

Bagaimana dengan kita? Mungkinkah kita memiliki sikap kedermawanan di mana begitu banyak orang yang terdampak dari Pandemi Covid-19? Kedermawanan mirip dengan kemurahan hati (aljud), sama-sama berfungsi untuk mensucikan diri dan harta, bermurah hati, dan memenuhi janji dan komitmen sosial kita kepada Tuhan.

Kedermawanan betul-betul berorientasi kepada pemecahan persoalan keumatan dan kemasyarakatan, bukannya kegiatan sosial yang mengharapkan pujian, kedudukan, kehormatan, dan pujian.Kedermawanan juga berarti kita melakukan sesuatu yang baik beserta ahlinya dan yang bukan ahlinya.

Berita Terkait : Dimensi Cultural Right Di Dalam Penafsiran Teks Kitab Suci (1)

Jika dia bukan ahlinya, maka jadilah engkau ahlinya.Kalangan ulama juga ada yang mengartikan futuwwah sebagai seorang hamba yang selalu peduli terhadap urusan orang lain. Inilah yang diisyaratkan dalam hadis Nabi SAW.

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong terhadap sesama saudaranya.”Dari segi ini, futuwwah bisa juga berarti memaafkan terhadap kesalahan saudaranya dan menutupi segala aibnya. Inilah derajat futuwwah yang paling rendah.

Berita Terkait : Makna Sufistik Timur dan Barat (7)

Futuwwah juga bisa berati engkau menganggap dirimu tidak lebih utama dari pada orang lain, dan dengan demikian futuwwah juga berarti engkau melayani dan tidak dilayani.

Kalangan ulama tasawuf mengartikan kedermawanan sebagai kerelaan hati untuk memberi bantuan dan pertolongan kepada sesama makhluk, tidak hanya terbatas pada manusia melainkan juga makhluk lain, termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan benda mati, karena bagi mereka, dalam kamus Tuhan tidak ada benda mati, semua beribadah dan bertasbih kepada Tuhan.***