Dark/Light Mode

Kami Di Sini Kamu Di Sana

Senin, 24 Agustus 2020 05:15 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Judul di atas bukan penggalan syair lagunya Nur Afni Octavia yang populer pada tahun 80-an. Oposisi jalanan memang sedang populer akhir-akhir ini, seperti lahirnya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) minggu lalu. Dalam deklarasinya, ada delapan tuntutan untuk menyelamatkan Indonesia. Seperti biasa masyarakat kita terbelah, antara yang pro dan kontra. Bagi pendukung KAMI, maklumat ditujukan ke pemerintah sebagai bentuk kontrol demokrasi. Di sisi lain, apa yang dilakukan KAMI merupakan bentuk kekecewaan dan barisan sakit hati. Tren protes global sedang terjadi di mana-mana. Modelnya sama, yaitu dengan memanfaatkan jalanan sebagai arena utama oposisi. Mulai dari protes kebijakan RUU Ektradisi di Hong Kong, protes ledakan di Lebanon dan protes kematian George Floyd di Minneapolis Amerika Serikat. Richard Youngs dalam “New Hope or False Down for Democracy” mengatakan, protes jalanan sama-sama dapat memicu ketidakpuasan dan ketidakpastian politik.

“Perbedaan dan konflik harus dikelola, Mo,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar tidak mau ambil pusing dengan hiruk pikuk politik. Kopi pahit dan rebusan pisang tersaji dari pagi tidak disentuhnya. Kepulan asap rokok klobot made in sendiri alias tingwe tidak mampu menghalau pikiran kacau Semar. Romo Semar sedang galau dengan terus meningkatnya korban virus corona di berbagai daerah. Belum lagi baying-bayang resesi ekonomi global terus menghantui priuk nasi wong cilik. Semar jadi mengerti kenapa Prabu Duryudono selalu memelihara konflik antara Prabu Salya dan Adipati Karno.

Berita Terkait : What`s Up Ahok?

Kocap kacarito, dalam setiap pasewakan agung kerajaan Hastina sering terjadi perbedaan pendapat atas perang Baratayuda. Prabu Salya merupakan tokoh yang tidak setuju dengan perang Baratayuda. Salya memilih jalan damai agar Kurawa mengembalikan kerajaan Amarta dan separo kerajaan Hastina kepada Pandawa. Prabu Salya beralasan bahwa sama-sama darah Barata tidak elok berperang hanya untuk memperebutkan kekuasaan. Sebagai gantinya Prabu Salya rela memberikan kerajaan Mandaraka miliknya kepada Kurawa jika proposal perdamaiannya diterima kedua belah pihak.

Sebaliknya Adipati Karna merupakan tokoh yang menentang Prabu Salya. Seakan Karna tidak peduli lagi kalau Prabu Salya adalah mertuanya sendiri. Adipati Karna kawin dengan Dewi Surtikanti anak ketiga Prabu Salya. Karna tetap kekeh perang Baratayuda harus terjadi. Baratayuda merupakan perang saudara antara Pandawa dan Kurawa untuk memperebutkan tahta Hastina. Bahkan Adipati Karna bersedia menjadi panglima perang di pihak Kurawa melawan Pandawa.

Berita Terkait : Menanti Datangnya Kalasuba

Duryudono tidak kecewa melihat adanya dua kubu berbeda pandangan di pemerintahannya. Ibarat beras ditampah pasti ada “lasnya” atau padi. Duryudono justru  melihat perbedaan Salya dan Karna memberikan bobot keputusan yang akan diambilnya. Pandangan Salya untuk tidak berperang melawan Pandawa diterima dengan baik. Begitu pula pemikiran Karna agar tetap melawan Pandawa menjadi pertimbangan dalam mengatur strategi kedepan. 

“Yang satu ingin menyelamatkan kapal oleng, yang satu bilang kumpulan sakit hati. Bagaimana ini, Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar menghela napas panjang. Seakan melepaskan beban penat di dadanya. Para pihak harus bisa menahan diri. Jangan membenturkan rakyat untuk kepentingan sesaat. Suara rakyat tidak melekat pada salah satu partai politik. Gerakan jalanan bisa berhasil jika didukung oleh gerakan politik dan membangun sayap elektoral. Di era pandemi seperti sekarang ini banyak orang kehilangan pekerjaan. Mereka tinggal di rumah dan menghabiskan waktunya di media sosial. Mereka sangat rentan untuk ditarik-tarik mengikuti gerakan moral dan oposisi jalanan. Oye