Dark/Light Mode

Menanti Datangnya Kalasuba

Senin, 10 Agustus 2020 05:14 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Semalam saya telepon Ki Manteb Sudarsono. Selain bersilaturahmi biasanya dilanjutkan diskusi sanggit wayang. Tapi malam itu Ki Manteb kurang semangat untuk bicara lakon wayang. Dalang Oye tersebut memilih ngudo roso sudah hampir enam bulan tidak ada job manggung. Untuk makan dan biaya hidup bagi ukuran Ki Manteb tidak masalah. Tapi sebagai seorang dalang memiliki beban moral untuk menghidupi setidaknya lima puluh orang. Mulai dari penabuh gamelan, campur sari, sinden, sound system, driver, hingga penata panggung. Masih banyak dalang-dalang lainnya yang memerlukan uluran tangan di negeri ini.  

Pekerja seni semestinya berhak dapat bantuan sosial enam ratus ribu, Mo?” celetuk Petruk setengah iri dengan tunjangan bonus karyawan yang gajinya kurang dari 5 juta. Romo Semar tidak mau komentar urusan bantuan sosial. Kopi pahit dan penganan getuk tidak membuatnya semangat pagi ini. Semar sedang galau dengan pagebluk Covid yang tak kunjung selesai bahkan cenderung tambah parah. Resesi ekonomi dan ketidakpastian usaha menghantui perekonomian kita. Belum lagi kegaduhan politik mulai terjadi di mana-mana. Semar flash back akan hadirnya seorang pemimpin di era keemasan atau Kalasuba

Berita Terkait : Kami Di Sini Kamu Di Sana

Kocap kacarito, tanda-tanda hadirnya Kalasuba diawali dengan Kalabendu atau pagebluk seperti yang terjadi saat ini. Pagebluk berupa serangan wabah penyakit terjadi di berbagai belahan dunia. Ibaratnya pagi sakit, sore praloyo. Sore sakit, paginya meninggal dunia. Bukan itu saja, pagebluk yang menyerang kawulo dibarengi dengan masa paceklik. Masa paceklik digambarkan seperti larang pangan, sandang, dan daya beli sudah tidak ada lagi. Kehidupan sosial masyarakat terganggu akibat dampak pandemi. Kehidupan masyarakat digambarkan seperti daun-daun kering yang mudah terbakar dan susah untuk dikumpulkan.

Jangka Rangga Warsito mengatakan, sehabis kalanbendu akan datang dewa ngejawantah. Asaliro manungso, satrio pinandito, sinisihan wahyu, Pasuryan bethoro Kresno, Watake Prabu Bolodewa, Gegaman Trisulo. Ramalan pujangga besar dari Kasunanan Surakarta abad 18 tersebut kalau diterjemahkan lepas maknanya sebagai berikut; Akan datang seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya, pemimpin tersebut agamis dan religious, berwajah tampan seperti Kresna, memiliki ketegasan seperti Prabu Bolodewa, bersenjata Trisula atau tiga ketajaman batin.

Berita Terkait : Dinasti Politik Durgandini

Seorang pemimpin akan dicintai rakyatnya kalau pemimpin tersebut selalu dekat dengan rakyat. Ibaratnya curiga manjing warangka. Saat terjadi krisis, pemimpin hadir dan memberikan harapan kepada rakyatnya. Harapan itulah sebagai vitamin dan penambah keyakinan dalam berjibaku menghadapi krisis yang terjadi. Seorang pemimpin memiliki wewenang penuh untuk mensejahterakan rakyat. Sehingga dengan harapan dan wewenang yang dimilikinya, seorang pemimpin dapat keluar dari krisis yang berkepanjangan.

Senjata Trisula digambarkan sebagai tiga laku utama sebagai seorang pemimpin. Yaitu iman, ilmu, dan amal. Pemimpin yang baik akan selalu beriman dan bersyukur kepada Sang Khalik. Tidak pernah berhenti menuntut ilmu untuk menegakkan kebenaran dalam memimpin. Dengan iman dan ilmu seorang pemimpin dapat memberikan amalannya berupa rasa ayom dan ayem kepada rakyat. Senjata Trisula dapat juga digambarkan sebagai kecerdasan seorang pemimpin untuk melakukan cipta, karsa, dan karya dalam mengemban tugas.

Berita Terkait : Legitnya Klepon di Saat Pandemi

“Kira-kira kapan datangnya Kalasuba, Mo?” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Tidak ada yang tahu persis, Tole. Tapi diperkirakan Kalasuba akan datang pada tahun 2025,” jawab Semar pendek. Sambil menunggu datangnya Kalasuba, kewajiban kita semua untuk tetap ikhtiar agar pagebluk di negeri ini segera selesai. Dan rakyatnya diberikan murah pangan, sandang dan papan. Bukan malah sebaliknya sesama anak bangsa saling menyalahkan dan gege mongso saling mematut diri menjadi pemimpin. Oye