Dark/Light Mode

Putra Minang `Good Looking`

Senin, 7 September 2020 07:21 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalau kita tengok sejarah berdirinya bangsa, kontribusi putra-putra Minang tidak diragukan lagi sebagai founding father republik ini. Sebut saja Imam Bonjol, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Agus Salim, dan M. Hatta. Semuanya good looking dan look good dalam meletakkan dasar dan falsafah negara. Ironisnya masih ada yang meragukan rasa nasionalisme rakyat Minang. Argumentasi apa yang digunakan sehingga memvonis masyarakat Minang, Sumatera Barat, tidak mendukung negara Pancasila.   

“Mungkin stres karena Covid, Mo," celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar tidak tertarik untuk mengomentari kegaduhan-kegaduhan yang tidak bermutu datang silih berganti. Semar justru pusing dengan keadaan ekonomi rakyat saat ini. Banyak pengangguran dan angka kriminalitas naik. Rakyat kecil semakin susah mencari makan. Usaha kecil dan sektor infomal yang diharapkan mampu menjadi buffer ekonomi belum berjalan dengan baik. Romo Semar jadi ingat perilaku Kresna dan Harjuna yang mulai nyeleneh pasca perang Baratayuda. Keduanya merasa jumawa setelah berhasil mengalahkan Kurawa. 

Berita Terkait : Bohong Demi Pandemi

Kocap kacarito, Satria Pandawa boyongan kembali masuk istana setelah Kurawa kalah perang. Puntodewa menjadi raja Hastina menggantikan Duryudono. Para Pandawa kelihatan kagok menjalankan roda pemerintahan setelah lama berada di luar. Perilaku satria Pandawa yang dulunya baik kini mulai menyimpang dari tatanan. Mungkin pengaruh euforia kemenangan sehingga lupa diri. Sebagai pangreh projo Pandawa tidak boleh melupakan rakyatnya yang selama ini ikut berjuang. Seperti apa yang dilakukan Kresna dan Harjuna. Sepertinya dewa Wisnu sudah loncat keluar dari tubuh Kresna dan Harjuna.

Pesta andrawina empat puluh hari empat puluh malam tiada henti. Para Pandawa dimabuk kegembiraan. Ibu Kunti sudah mengingatkan kepada anak-anaknya agar tidak terlalu berlebihan dalam merayakan kemenangan. Beberapa kerajaan sahabat dan sekutu ikut diundang dalam pesta Andrawina. Salah satu raja yang diundang adalah Prabu Arjuna Pati dari kerajaan Sriwedari. Arjuna Pati datang ditemani istrinya Dewi Citra Oyi. Kecantikan Dewi Citra Oyi mirip dengan Dewi Banowati istri Duryudono. Sayangnya Dewi Banowati tewas diakhir perang Baratayuda oleh pihak Kurawa sendiri. Padahal Harjuna masih naksir berat dengan Banowati. Harjuna sudah merencanakan akan  mengawini Dewi Banowati seandainya masih hidup. Bagi Dewi Banowati, Harjuna merupakan cinta pertamanya. 

Berita Terkait : What`s Up Ahok?

Timbullah niat jahat Harjuna begitu melihat kecantikan Dewi Citra Oyi. Harjuna ingin merebut Dewi Citra dari suaminya Arjuna Pati. Untuk memuluskan niat jahatnya, Harjuna minta bantuan Kresna. Kresna bukannya melarang malah mengamini kehendak Harjuna. Bagi Kresna tidaklah susah meminta Dewi Citra secara baik-baik. Karena Arjuna Pati merupakan murid kesayangannya. 

Perilaku Harjuna merebut istri orang tidak pantas ditiru oleh siapa pun. Walaupun Arjuna Pati merelakan istrinya diambil Harjuna. Perilaku merusak pagar ayu merupakan pemali dan tidak pantas dicontoh. Konon Arjuna Pati adalah anak dari Palgunadi guru memanah Harjuna. 

Berita Terkait : Kami Di Sini Kamu Di Sana

“Raden Harjuna lupa sejarah, Mo. Sehigga perilakunya mulai melenceng dari bebener," sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. "Satria atau pangreh projo kalau sudah kehilangan kewicaksanaan, ucapan dan tindakan mulai ngawur," jawab Semar pendek. Hakekat Pancasila adalah menyatukan. Bukan memecah belah. Adanya perbedaan justru membuat bangsa ini semakin kuat. Orang yang memandang dirinya lebih dari orang lain justru membuktikan bahwa dirinya tidak mampu mengontrol nafsunya. Oye