Dark/Light Mode

Demokrasi Yang Bermoral (4)

Drama Demi Drama Memalukan

Selasa, 12 Maret 2019 08:56 WIB
SHAMSI ALI
SHAMSI ALI
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesaksian mantan pengacara pribadi (personal lawyer) Donald Trump, Michel Cohen, di hadapan Kongres. Jika pada kesaksian di komite pengawasan, membahas masalah-masalah integritas sang presiden, di komite intelijen, banyak membahas isu keamanan.

Termasuk keterlibatan Rusia dalam memenangkan Donald Trump. Kesaksian itu menyingkap berbagai isu yang selama ini berkembang di khalayak ramai.

Berita Terkait : Tulisan Lama Goenawan Mohamad

Termasuk upaya menutup mulut seorang pelacur dan pemain film porno, agar tidak membuka rahasia Trump ke khalayak ramai. Dalam tradisi Amerika, hubungan seperti itu bukan masalah besar.

Maklum, negara liberal melihat hal itu adalah isu personal. Masalahnya kemudian adalah Trump berdusta jika pernah melakukan transaksi itu. Kemarin Mr. Cohen justru membutkikan dengan sebuah cek yang dibayarkan kepadanya sebagai ganti uang prbadinya (reemburstment).

Berita Terkait : Korea Dirangkul Erat, Iran Diinjak Keras

Cerita-cerita keterlibatan Rusia dalam memenangkan Donald Trump juga semakin terbuka dengan realita bahwa semua itu terkait dengan rencana pendirian Trump Tower di Moskow.

Singkatnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa, ternyata demokrasi tanpa kesadaran moral membawa kepada situasi semrawut. Demokrasi itu es￾ensinya kebebasan ekspresi dan partisipasi. Tapi kebebasan tanpa “ikatan moral”, ternyata berujung kepada “mess” (kesemrawutan) publik.
 Selanjutnya