Dark/Light Mode

Jangan Sampai Terjadi Kutukan Zaman Karna Pala

Senin, 3 Mei 2021 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Telinga dalam bahasa Jawa inggil disebut juga Karna. Fungsi karna sangatlah berat. Selain harus menyaring kabar atau berita yang masuk, telinga memiliki tugas ekstra. Telinga sebagai tempat memasang anting, tindik metal, cantelan kacamata dan earphone yang menempel sepanjang hari. Selain itu selama pandemi, fungsi telinga sebagai gantungan masker untuk melindungi diri dari penyebaran virus. Beban karna semakin berat ketika mendengar kabar ada pihak yang tega mencari keuntungan dengan menjual antigen bekas di Bandara Kualanamu. Bukan saja membahayakan nyawa orang lain, perilaku oknum tersebut justru bertentangan dengan kerja keras pemerintah dalam menanggulangi penyebaran Covid-19.

Ada kabar membuat karna kita nyesek. Rumah dinas wakil rakyat yang terhormat dipakai tempat mediasi makelar kasus. Belum lagi barang bukti berupa kiloan emas raib di tengah proses penyidikan. Ada penyidik tidak malu-malu lagi untuk bernegosiasi langsung dengan tersangka.

Berita Terkait : Belajar Mudiknya Pandawa

“Ini zaman edan, Mo. Ora ngedan ora keduman,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar ngelus dada tidak mau komentar banyak. Romo Semar sedang semangat ikut-ikutan mengajukan dispensasi mudik seperti para santri. Namun Semar sempat bingung ketika mendengar Dirjen Perhubungan berencana mengeluarkan stiker bagi kendaraan umum yang diperbolehkan mudik. Ada istilah baru yakni larangan pra mudik dan pasca mudik. Peraturan larangan mudik bikin bingung. Dalam suasana kebingungan tersebut, Romo Semar jadi ingat kisah lahirnya Karna dari kerajaan Mandura.

Kocap kacarito, Dewi Kunti mendapat ajian sakti berupa Cupu Manik dari Resi Druwasa. Keampuhan Cupu Manik selain bisa membuat awet muda dapat memanggil dewa khayangan yang dikehendaki. Resi Druwasa adalah resi sakti penasehat Prabu Kuntiboja. Ada beberapa larangan penggunaan Cupu Manik. Cupu Manik tidak boleh dirapal saat mau tidur atau sedang mandi. Intinya Cupu Manik tidak boleh digunakan saat wanita tersebut telanjang bulat tanpa busana.

Berita Terkait : Kehebatan Nanggala Dan Alugara

Suatu ketika, Dewi Kunti sedang mandi pagi. Terdorong oleh rasa ingin tahu dari keampuhan Cupu Manik, Dewi Kunti memanggil Dewa Surya atau Dewa Matahari. Tiba-tiba awan gelap menyelimuti seluruh angkasa kerajaan Mandura. Dewi Kunti kaget begitu melihat ada pemuda tampan berdiri di hadapannya. Pemuda tersebut tidak lain adalah Dewa Surya yang baru saja dipanggilnya. Dalam keadaan gelap dan sepi yang ada adalah lupa diri. Maka terjadilah olah krida asmara layaknya pasangan suami istri antara Dewa Surya dan Dewi Kunti. Dari hubungan terlarang tersebut Dewi Kunti hamil.

Istana Mandura gempar dengan kehamilan Dewi Kunti. Seorang anak raja masih gadis hamil di luar nikah. Untuk menutupi aib kerajaan, dibuatlah sebuah cerita bohong seolah-olah Dewi Kunti masih perawan. Untuk membuktikan bahwa Dewi Kunti masih perawan lahirnya jabang bayi melalui telinga. Maka bayi tersebut diberi nama “Karna” karena lahir lewat telinga. Bayi tanpa dosa terpaksa dilarung ke sungai Aswanadi. Jabang bayi Karna diketemukan oleh seorang kusir kereta Hastina bernama Adirata.

Berita Terkait : Wokeisme Dan Nabi Palsu

“Aib kerajaan Mandura berbuntut panjang, Mo. Kelak Adipati Karna sebagai pemicu terjadinya perang saudara antar darah Barata,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Aib yang ditutupi bisa memicu kebohongan baru begitu seterusnya. Akibatnya seperti terkena kutukan atau pala,” jawab Romo Semar. Peristiwa Bandara Kualanamu jangan sampai menjadi penanda lahirnya budaya pembohong. Begitu pula dengan hilangnya kiloan emas barang bukti beberapa waktu lalu jangan sampai membuat perilaku lengbet atau Meleng sabet. Diperlukan kearifan dan keteladanan kita semua untuk tidak berperilaku bohong dalam menghadapi keadaan semakin susah akibat pandemi yang tidak kunjung selesai ini. Oye