Dark/Light Mode

Banjir Bandang Di Alengka

Senin, 22 Februari 2021 05:35 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada hal menarik bagi turis asing saat melewati jalan raya Tuntang Ambarawa pada awal tahun 80-an. Mereka berhenti sejenak untuk mengambil foto suasana persawahan dan Rawa Pening sebelum singgah ke Museum Ambarawa. Tapi sekarang lahan sawah sudah berubah menjadi ruko dan bangunan beton. Sehingga indahnya pemandangan sawah tidak bisa dinikmati lagi. Berkurangnya lahan hijau bukan saja mengganggu keseimbangan alam, tapi juga berdampak terhadap perilaku sosial manusia. Masyarakat dengan mudah mengubah fungsi lahan produktif menjadi pemukiman sehingga menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor.

Lahan hijau merupakan ruang publik yang harus dilestarikan karena pangejawantahan hubungan antara manusia dan lingkungan. Dalam tradisi Jawa keseimbangan alam selalu dijaga dengan melakukan ritual sedekah bumi. Tradisi ini merupakan wujud syukur manusia kepada Sang Khalik atas pemberian bumi. Kearifan sedekah bumi sudah mulai ditinggalkan. Manusia tidak malu lagi untuk mengekploitasi bumi tanpa memperhatikan kerusakan alam yang terjadi.

Berita Terkait : Tumbal Kritik Jaka Slewah

“Covid belum reda, banjir datang menerjang,” celetuk Petruk. Romo Semar mengamini apa yang menjadi keprihatinan anaknya Petruk. Cuaca ekstrem menyebabkan terjadinya curah hujan besar di berbagai wilayah. Akibatnya terjadi banjir di mana-mana. Jalan utama pulau Jawa yang berfungsi sebagai distribusi logistik nasional ikut terganggu.

Kopi pahit dan ubi rebus dibiarkan dingin. Romo Semar kurang selera untuk menikmati sarapan paginya. Kepulan asap rokok tingwe klobot jagung membawa ingatan Semar ke zaman Ramayana di mana terjadi banjir bandang di kerajaan Alengka.

Berita Terkait : Isu Kudeta Tumapel

Kocap kacarito, hubungan politik antara kerajaan Alengka dan Maespati sedang memburuk. Hal ini disebabkan karena persaingan politik dan kekuasaan antara dua kerajaan. Prabu Harjuna Sasrabahu sebagai raja Maespati menganggap dirinya paling hebat karena sebagai titising Dewa Wisnu. Begitu pula Prabu Rahwana tidak mau kalah. Rahwana menganggap dirinya sebagai raja diraja karena mendapat dukungan politik yang cukup kuat dari sekutunya.

Persaingan meruncing ketika Prabu Harjuna Sasrabahu mengubah wujudnya menjadi raksasa sebesar gunung menambak aliran sungai Gangga. Harjuna memenuhi permintaan istrinya Dewi Citrawati yang ingin berenang tanpa ada gangguan dari mana pun. Tanpa disadari luapan sungai Gangga menyebabkan banjir bandang di beberapa wilayah termasuk ibukota kerajaan Alengka. Prabu Rahwana naik pitam wilayahnya kebanjiran akibat ulah Harjuna Sasrabahu. Tanpa pikir panjang Prabu Rahwana melabrak Prabu Harjuna Sasrabahu yang sedang bercekrama dengan istrinya.

Berita Terkait : Inovasi Model Gamestop

Suwanda sebagai patih Maespati menghadang pasukan Alengka. Terjadilah pertempuran antara pasukan Alengka dengan Maespati. Dalam pertarungan tersebut Patih Suwanda tewas oleh Prabu Rahwana. Melihat patihnya tewas Prabu Harjuna Sasrabahu murka. Perang tanding antara kedua raja besar tidak terhindarkan. Namun Rahwana masih kalah sakti untuk melawan Harjuna Sasrabahu. Rahwana tidak berkutik dan menjadi tawanan perang kerajaan Maespati. Kelak Prabu Harjuna Sasrabahu menerima karmanya sendiri sebagai perusak lingkungan. Harjuna Sasrabahu mati oleh Rama Bargawa anak Begawan Jamadagni.

“Perusak lingkungan pasti mendapatkan karma, Mo,” protes Petruk gemas. “Betul, Tole. Komersialisasi lahan hijau termasuk kejahatan terstruktur,” jawab Semar pendek. Dampak kerusakan yang terjadi tidak sebanding dengan dengan nilai ekonominya. Belum lagi kerugian moril dan penderitaan korban akibat bencana banjir. Oye