Dark/Light Mode

Hakikat Lebaran Bagi Bima

Senin, 24 Mei 2021 05:15 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu symptom berbahaya dari virus Covid adalah gangguan pada otak manusia atau yang disebut Brain Fog. Gangguan otak disebabkan karena kurang konsentrasi, dehidrasi, dan stres yang berkepanjangan. Akibatnya manusia susah untuk membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Momen Lebaran dapat menguatkan jasmani dan rohani kita setelah sebulan berpuasa. Sehingga mampu mengembalikan jati diri seseorang untuk meningkatkan ketakwaan dan berbuat baik kepada sesama.

“Idealnya setelah Lebaran liburan, Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar memilih diam tidak menanggapi anaknya Petruk. Sejatinya Romo Semar sedang galau dengan melonjaknya kasus Covid-19 pasca mudik Lebaran. Selain itu dengan dibukanya beberapa tempat wisata selama liburan akan menimbulkan klaster-klaster baru. Di sisi lain, pro kontra pemecatan 75 karyawan KPK yang tidak kunjung reda membuat Romo Semar prihatin. Pertentangan ini bukan saja menimbulkan kegaduhan baru. Tetapi sedikit banyak akan mengganggu pemberantasan korupsi di Tanah Air. Sudah menjadi fitrah manusia saling menyalahkan jika terjadi masalah.

Berita Terkait : Ngayom Dan Ngayomi

Kopi pahit dan jadah bakar kuliner asli kampung ikut menemani sarapan Romo Semar. Rokok klobot buatan sendiri alias rokok tingwe menambah nikmatnya pagi yang cerah di padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap membawanya ke zaman Bima menemukan jati dirinya. Kocap kacarito, Bima menghadap gurunya Pandito Durno untuk minta wejangan kesempurnaan hidup manusia. Manusia akan merasa tenteram setelah menemukan jati dirinya dan arti hidup yang sebenarnya. Durna menyarankan Bima untuk pergi ke hutan Tribaksara mencari “Kayu Gung Susuhing Angin”. Kayu berarti karep atau keinginan. Gung artinya besar. Sedangkan Susuhing Angin bermakna nafas manusia. Jadi yang dimaksud adalah kemauan besar untuk mencari arti kehidupan sejati.

Bima tidak menemukan apa yang dicari di hutan Tribaksara. Setelah keluar masuk hutan, Bima justru diserang oleh dua raksasa. Terjadi pertempuran hebat antara Bima dan kedua raksasa tersebut. Kedua raksasa dapat dikalahkan Bima dengan cara diadu kepalanya. Kedua raksasa hilang dan berubah wujud Dewa Indra dan Dewa Bayu yang sedang kena kutukan. Dewa Indra mengatakan kalau Bima mau mencari kehidupan sejati bukan di hutan Tribaksara akan tetapi di tengah samudera.

Berita Terkait : Belajar Mudiknya Pandawa

Berbekal petunjuk Dewa Indra, Bima tanpa ragu terjun ke tengah samudera. Walaupun para Pandawa melarang Bima terjun ke samudera. Dalam keadaan setengah sadar, tubuh Bima disambar ular naga dan melilitnya. Bima meronta untuk melepaskan belitan naga tersebut. Kuku Pancanaka tanpa disadari berhasil merobek mulut Sang Naga. Hilang wujud ular naga berubah wujud Dewa Ruci yang tubuhnya mirip Bima. Gambaran Dewa Ruci mirip Bima adalah perlambang jati dirinya sendiri. Bima menemukan arti kehidupan sejati di tengah samudera setelah bertemu dengan Dewa Ruci.

“Bima akhirnya menemukan jati dirinya setelah menghadapi berbagai ujian, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Setiap ujian yang dihadapi manusia sebetulnya untuk  menguatkan dirinya. Tinggal manusianya kuat atau tidak menghadapi ujian tersebut. Manusia mampu menghadapi ujian hidup kalau mengetahui jati dirinya dan tujuan hidup. Hidup itu apa? Hidup dari siapa dan hidup untuk apa. Hidup adalah ujian. Hidup dari Sang Khalik dan hidup adalah untuk menghadapi ujian. Itulah hakikat dari hidup yang sebenarnya, Tole,” papar Romo Semar. Oye