Dark/Light Mode

Belajar Mudiknya Pandawa

Senin, 10 Mei 2021 06:10 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam kedaan normal, kurang afdol jika tidak mudik ke kampung halaman. Sebab hakikat mudik adalah kembali ke udik di mana kita berasal. Mudik sendiri memiliki dua dimensi yakni sebagai ritual keagamaan dan budaya. Setelah sebulan berpuasa pulang kampung untuk lebaran bersama keluarga. Di sisi lain, budaya mudik untuk melestarikan tradisi sungkeman dan saling memaafkan. Biasanya orang yang lebih muda datang sungkem kepada orang tua. Tradisi mudik juga dimanfaatkan sebagai ajang pamer kesuksesan selama merantau kepada keluarga di kampung.

Maka begitu mudik dilarang, tidak sepenuhnya dapat diterima oleh sebagian masyarakat kita. Hal ini disebabkan karena ada yang hilang dalam melaksanakan ritual agama maupun tradisi budaya. Pernyataan tidak konsisten beberapa pejabat tentang aturan mudik menambah bingung masyarakat. Sehingga masyarakat cenderung kurang memahami tujuan larangan mudik yang sebenarnya. Padahal sudah jelas tujuan larangan mudik untuk melindungi rakyat dari pandemi yang belum terkendali.

Berita Terkait : Hakikat Lebaran Bagi Bima

“Kita buat wisata mudik saja, Mo,” celetuk Petruk. “Bagi yang tidak mudik diberikan voucher discount nginap di hotel berbintang dan makan gratis di restoran. Sehingga orang memilih tidak mudik dan memilih berlebaran di hotel,” papar Petruk sok tahu. Romo Semar diam tidak serta merta menanggapi komentar anaknya Petruk. Romo Semar sedang berduka dengan serangan brutal tentara Israel ke masjid Al Aqsa Palestina. Serangan Israel bukan saja menambah kacau Palestina tetapi mengancam perdamaian dunia. Kembali ke masalah mudik, Semar teringat mudiknya para Pandawa ke Sapta Arga.

Kocap kacarito. Pasca-terusirnya para satria Pandawa oleh Kurawa dalam peristiwa Bale Gala-Gala membuat Pandawa tercerai berai keberadaannya. Bima merantau ke Khayangan Sapta Pratala bersama istrinya Nagagini. Dalam perantauan ke Sapta Pratala Bima dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Antareja. Begitu pula dengan Puntadewa dan Harjuna pergi ke kerajaan Pancala. Harjuna mengikuti sayembara mentang busur panah di Kerajaan Pancala dan berhasil memboyong Dewi Drupadi. Drupadi menjadi istri Puntadewa dan mengabdi kepada satria Pandawa.

Berita Terkait : Jangan Sampai Terjadi Kutukan Zaman Karna Pala

Setelah berhasil merantau para Pandawa ingin kembali ke tanah leluhur yaitu ke Sapta Arga di mana para leluhur Pandawa berasal. Para Pandawa belum memiliki kerajaan sendiri. Kerajaan Hastina tinggalan bapaknya Prabu Pandu direbut oleh Kurawa akibat konsiparasi jahat Sengkuni. Dalam kedaan bingung Pandawa memilih pulang ke Sapta Arga.

Dalam perjalanan mudik ke Sapta Arga, para Pandawa selalu menebar kebaikan kepada para kawula yang membutuhkan pertolongan. Sewaktu melewati kerajaan Eka Cakra, para kawula Eka Cakra sedang dilanda ketakutan terhadap teror rajanya sendiri Prabu Baka. Prabu Baka tega memakan manusia sebagai santapannya. Tiada hari tanpa teror di Eka Cakra. Melihat kedaan mencekam, Dewi Kunti meminta Bima menghentikan kebiadapan Prabu Baka. Raja pemakan manusia tewas oleh Bima dan rakyat Eka Cakra bersuka ria atas pertolongan para satria Pandawa.

Berita Terkait : Kehebatan Nanggala Dan Alugara

“Mudiknya Pandawa perlu kita contoh, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul tole ritual mudik harus dipahami sebagai kesalehan sosial yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Kalau mudik berpotensi menciptakan klaster baru penyebaran Covid, lebih baik tidak usah mudik dulu. Di sisi lain, larangan mudik harus dibarengi dengan keteladanan para pemimpin kita. Segala ucapan dan tindakan mengenai kebijakan mudik harus nyawiji dan konsiten. Pernyataan para pejabat harus memberikan kesejukan. Sehingga masyarakat merasa nyaman dengan aturan larangan mudik.” Oye