Dark/Light Mode

Islam Dan Sexual Education (10)

Menstruasi Dan Mitos Seksualitas (3)

Sabtu, 12 Juni 2021 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Rasulullah da­lam banyak kesem­patan menegaskan kebolehan melaku­kan kontak sosial dengan perempuan menstruasi. Kata Rasulullah: “Segala sesuatu dibolehkan untuknya kecuali ke­maluannya (faraj)”, “Segala sesuatu boleh untuknya kecuali bersetubuh (al-jima’)”. “Lakukanlah sesuatu di atas idzar-nya”. Bahkan Rasulullah seringkali mengamalkan kebolehan itu dalam bentuk praktek.

Riwayat lain yang secara demon­stratif disampaikan ‘Aisyah, antara lain, ‘Aisyah pernah minum dalam satu bejana yang sama dalam keadaan haidl, juga pernah menceritakan Rasulullah melakukan segala sesuatu selain ber­setubuh (jima’) sementara dirinya dalam keadaan haid, juga darah haid dan bekasnya yang terdapat dalam pakaian Aisyah, sama sekali Rasulullah tidak memperlihatkan perlakuan tabu terhadapnya.

Berita Terkait : Menstruasi Dan Mitos Seksualitas (4)

Perintah untuk menjauhi (fa’tazilu) dalam ayat di atas bukan berarti menjauhi secara fisik (li al-tab’id), tetapi menghindarkan diri untuk tidak berhubungan seks (i’tizal/coitus). Sedangkan darah haid disebut al-adza, karena darah tersebut tidak sehat dan tidak diperlukan lagi oleh organ tubuh perempuan.

Bahkan kalau darah itu tinggal di da­lam perut akan menimbulkan masalah, karena itulah disebut adza. Kata adza menurut bahasa berarti sesuatu yang keji dan tidak dinginkan (ma yukrihu min kulli syai’). Karena itu kata adza dalam tafsir yang berbahasa Indonesia sering diartikan dengan penyakit dan kotoran.

Berita Terkait : Menstruasi Dan Mitos Seksualitas (2)

Menurut Thabathaba’i, darah haid itu sendiri bukan zat (‘ain)-nya yang darurat, melainkan sesuatu yang dari luar (dlarurah lighairih) kemudian memberi nilai tersendiri. (*)