Dark/Light Mode

Peran Politik Santri Dalam Lintasan Sejarah (3)

Lingkungan Politik Santri (2)

Rabu, 4 Agustus 2021 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Meskipun para santri tidak dikenal sebagai kaum yang memiliki kekayaan dan kekuasaan poli­tik seperti para sultan dan raja-raja lokal lainnya di tanah air, tetapi kekuatan daya jihad para santri bisa mengetarkan komunitas masyarakat luas, termasuk para tentara dan polisi. Jika bahasa jihad yang keluar dari para ulama dan santri, maka berlaku sebuah perinsip santri: ‘Isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid).

Bukannya para santri dan ulama takut mati tetapi keyakinan dari dalam mendorong diri mereka untuk melancarkan semangat jikad. Dengan komando “Allahu Akbar” Bung Tomo di Surabaya membuat pe­merintah kolonial gemetaran. Meskipun senjata tidak seimbang dengan para penjahat kemanusiaan namun ketegaran masyarakat bangsa yang didukung penuh para santri maka terbebaslah negeri ini dari tangan-tangan jahil para penjajah.

Berita Terkait : Lingkungan Politik Santri (3)

Para santri memang tidak mempunyai pengalaman dalam dunia militer tetapi jika kepepet mereka memiliki seman­gat juang tang tak terbandingkan oleh kekuatan manapun. Tidak sedikit jumlah pondok pesantren dijadikan markas per­juangan rakyat.

Selain kompleks pondok pesantren bukan tempat yang bebas di­kunjungi oleh para penguasa, khususnya penguasa pemerintah Hindia Belanda, pondok pesantren juga dipandang sebagai tempat yang harus “suci” dari berbagai macam permainan pragmatisme politik.

Berita Terkait : Lingkungan Politik Santri (1)

Berbeda dengan komunitas priyayi dan komunitas abangan; komonitas santri memiliki perinsip-perinsip sosial yang sangat familiar dan akrab dengan masyarakat. Komunitas priyayi terkesan sebagai kelompok elitis yang tidak pernah secara serius menyelesaikan secara tuntas persoalan masyarakat, tetapi lebih asyik dengan kelas santai yang terpisah jauh dengan ruang kelasnya.
 Selanjutnya