Dark/Light Mode

Menayangkan Wajah Nabi (2)

Selasa, 28 September 2021 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Isyarat untuk tidak menonjolkan pribadi Nabi Muhammad dan demi mencegah agar ia tidak disakralkan atau dipertuhankan di kemudian hari, tergambar ketika Khalifah Umar men­gundang rapat para gubernur dunia Islam saat itu untuk menentukan kalender.

Baca juga : Menayangkan Wajah Nabi (1)

Dalam musyawarah itu, dibicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dalam musyawarah itu, muncul berbagai usul tentang momen­tum yang akan digunakan sebagai pen­anggalan Hijriyah. Ada lima usul yang muncul, yaitu: 1) Momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW (‘Aam al-Fiil, 571 M); 2) Momentum pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul (‘Aam al-Bi’tsah, 610 M).

Baca juga : Mendiamkan Kedhaliman (2)

Lalu, 3) Momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW; 4) Momentum wafatnya Nabi Muhammad SAW; 5) Momentum Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah atau pisah­nya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu, Mekkah dinamakan Negeri Syirik atau bumi syirik. Pendapat terakhir ini diusulkan oleh Ali ibn Abi Thalib.

Baca juga : Mendiamkan Kedhaliman

Akhirnya, musyawarah yang dipimpin Amirul Mukminin, Umar Ibn Khatthab sepakat, memilih momentum yang dijadi­kan awal kalender Islam ialah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, dan penanggalan dan tarikh Islam dinamakan Tahun Hijriyah.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.