Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Isyarat untuk tidak menonjolkan pribadi Nabi Muhammad dan demi mencegah agar ia tidak disakralkan atau dipertuhankan di kemudian hari, tergambar ketika Khalifah Umar mengundang rapat para gubernur dunia Islam saat itu untuk menentukan kalender.
Baca juga : Menayangkan Wajah Nabi (1)
Dalam musyawarah itu, dibicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dalam musyawarah itu, muncul berbagai usul tentang momentum yang akan digunakan sebagai penanggalan Hijriyah. Ada lima usul yang muncul, yaitu: 1) Momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW (‘Aam al-Fiil, 571 M); 2) Momentum pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul (‘Aam al-Bi’tsah, 610 M).
Baca juga : Mendiamkan Kedhaliman (2)
Lalu, 3) Momentum Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW; 4) Momentum wafatnya Nabi Muhammad SAW; 5) Momentum Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu, Mekkah dinamakan Negeri Syirik atau bumi syirik. Pendapat terakhir ini diusulkan oleh Ali ibn Abi Thalib.
Baca juga : Mendiamkan Kedhaliman
Akhirnya, musyawarah yang dipimpin Amirul Mukminin, Umar Ibn Khatthab sepakat, memilih momentum yang dijadikan awal kalender Islam ialah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, dan penanggalan dan tarikh Islam dinamakan Tahun Hijriyah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.