Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rintihan Penderita Hemofilia, Impikan Kemudahan Dapat Obat Dari Negara
Selasa, 5 April 2022 19:46 WIB
Sebelumnya
Mungkin, kata Rani, jika di zaman itu obat hemofilia sudah ada di Indonesia, kondisi Mas Pur tak separah sekarang. Sekarang, sehari-hari Mas Pur hanya tergeletak di kasur. Lumpuh, tapi tak total. Bisa berjalan tetapi tidak boleh sampai pegal.
Yang kian membuat miris, kini Mas Pur hanya tinggal bersama sang ayah yang sudah lanjut usia serta ibunya yang mengalami stroke akibat kelelahan mengurus Mas Pur.
Mereka merupakan keluarga yang berasal dari kalangan kurang mampu. Jika ingin pergi berobat, sang ayah yang sudah sepuh ini harus menyewa mobil menuju rumah sakit yang jaraknya puluhan kilometer.
Baca juga : Ingatkan Pemerintah Soal Harga Pangan, Puan Ketua DPR Powerfull
Setiap pekan, ayahnya harus membawa Mas Pur ke rumah sakit yang jauh untuk meminta obat dan mengecek kondisi kesehatannya. Beruntung, saat ini sudah ada fasilitas ambulans desa yang sesekali bisa digunakan.
Sementara itu, Rani yang dulu bisa rutin merawat Mas Pur kini tak bisa mengurus dan menemaninya sepanjang hari. Ia harus bertanggung jawab kepada suami dan anaknya di lokasi yang jauh dari tempat Mas Pur. Namun, Rani selalu stand by jika suatu waktu dibutuhkan tenaganya untuk membantu ayah dan sang adik.
Kondisi Mas Pur sedikit terobati karena di tahun 2015 obat hemofilia sudah ditemukan dan masuk ke Indonesia. Obat tersebut adalah Faktor VIII.
Baca juga : Penuhi Permintaan Pasar, Pemerintah Harus Berdayakan Produk Dalam Negeri
Meski tidak menyembuhkan secara total, setidaknya Faktor VIII bisa mengatasi ketika terjadi pendarahan. Obat tersebut harganya sangat mahal, yakni sekitar Rp12,5 juta untuk ukuran tertentu.
Obat itu sebenarnya ditanggung BPJS, tapi ketersediaannya sangat terbatas. Faktor VIII tidak bisa distok pasien. Zehingga jika kambuh, maka dalam kondisi serba kesulitan dan menahan sakit, Mas Pur harus menuju rumah sakit demi mendapatkan obat.
Rani bersyukur bisa dapat obat gratis dari BPJS. Tapi, dia juga berharap agar obatnya bisa distok di rumah untuk memenuhi kebutuhan Mas Pur, mengingat kondisi ayahnya yang sudah sulit untuk mengantarkan Mas Pur secara rutin tiap kali terjadi pendarahan.
Baca juga : Singapura Telat, Kampung Di Sini Sudah Banyak Yang Lepas Masker
Sayangnya, pasien sampai saat ini tidak diizinkan untuk bisa stok obat hemofilia di rumah. Selain itu, Rani juga merasa kesulitan untuk mengandalkan BPJS ketika kondisi darurat yang membuat adiknya kehilangan banyak darah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya