Dark/Light Mode

Supaya Anak Jalani Prokes, Orangtua Kudu Beri Contoh

Kamis, 4 Februari 2021 09:59 WIB
Psikolog Dr Natris Indriyani saat talk show berjudul Strategi Sosialisasi Prokes Pada Anak yang digelar RM.id secara virtual, kemarin. (Foto: Youtube)
Psikolog Dr Natris Indriyani saat talk show berjudul Strategi Sosialisasi Prokes Pada Anak yang digelar RM.id secara virtual, kemarin. (Foto: Youtube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam masa pandemi ini, orangtua mesti memutar otak untuk mengajari anak menerapkan protokol kesehatan (prokes). Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memberi contoh pada anak.

Psikolog Dr Natris Indriyani menyebut, peran orangtua sangat penting untuk mengajari anak menerapkan prokes demi mencegah penularan Covid-19.

“Karena significant others-nya anak bukan dimulai dari lingkungan luar, bukan dari guru, misalnya. Tetapi dari orang tua. Dimulai dari ru mah dulu,” ujar Natris dalam talk show bertajuk “Strategi Sosialisasi Prokes Pada anak” yang digelar RM.id secara virtual, kemarin.

Berita Terkait : Hindari Makan Bersama, Jangan Sampai Tertular Covid

Untuk mengajarkan anak anak, khususnya yang berusia dini, orang tua perlu memberikan contoh menerapkan prokes. Natris mengingatkan, kemampuan meniru anak anak di bawah usia lima tahun sangat tinggi.

“Kalau anak di rumah jarang melihat orangtua menerapkan protokol kesehatan yang 3M ini, bagaimana dia menjalankannya sendiri. Gitu kan?” tuturnya.

Orangtua harus memberikan contoh berulang agar anak bisa menjadikan prokes sebagai kebiasaan atau habitual action. “Kebiasaan ini akan dibawa ke sekolah kelak, jika pembelajaran tatap muka sudah dilakukan,” imbuh Natris. anak-anak balita, bisa diberi pen didikan untuk menerapkan prokes dengan dongeng atau lagu.

Berita Terkait : Ayo Kita Disiplin Jalankan Prokes, Bantu Pemerintah Tangani Covid

Bagaimana dengan anak anak yang berusia di atas enam tahun? Natris bilang, orangtua bisa memanfaatkan apli kasi untuk mensosialisasikan prokes. “Pakai TikTok, misalnya. Pokoknya strategi disesuaikan dengan tahap perkembangan anak,” ucapnya.

Reward and punishment, juga bisa diberlakukan. Syaratnya, punishment atau hukuman, diberikan berdasarkan kesepakatan dengan anak. Yang penting, hukuman tidak boleh berbentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. “Misalnya, kalau anak tidak cuci tangan, diapain? Potong uang jajan, anak mau nggak? Harus disepakati,” beber Natris.

Natris menyebut, dari 3M yang paling sulit dilakukan anak-anak adalah menjaga jarak. Soalnya, sifat alamiah anak-anak adalah bermain dengan teman-temannya. Ini yang dikhawatirkan jika seko lah tatap muka sudah dimulai. Orangtua mesti ekstra menjelaskan soal menjaga jarak ini kepada anak hingga mereka mengerti.
 Selanjutnya