Dark/Light Mode

Isolasi Mandiri Yang Nggak Bener, Biang Kerok Klaster Keluarga

Jumat, 4 Juni 2021 17:51 WIB
Ilustrasi isolasi mandiri (Foto: Net)
Ilustrasi isolasi mandiri (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mayoritas orang sepertinya akan menjawab isolasi mandiri, bila ditanya opsi perawatan kesehatan bila terinfeksi Covid. Salah satu alasannya, tak mau jauh dari keluarga.

Tapi, tahukah Anda, jika isolasi mandiri yang tidak benar bisa menjadi pencetus klaster keluarga?

Terkait hal ini, dr. RA Adaninggar, SpPD yang aktif memberikan edukasi kesehatan melalui media sosial menjelaskan, kelompok orang yang boleh menjalani isolasi mandiri adalah mereka yang tergolong non lansia, tidak memiliki penyakit komorbid, mengalami covid gejala ringan (gejala flu, tidak ada radang paru/pneumonia, saturasi oksigen di atas 95 persen). Selain itu, rumahnya juga harus memenuhi syarat untuk isolasi mandiri.

Baca Juga : Tito Harap Smart Kampung Di Desa Sukojati Banyuwangi Direplikasi Daerah Lain

“Sebaiknya, lapor Puskesmas untuk menentukan kondisi pasien, penentuan lokasi isolasi, dan langkah penanganan selanjutnya,” ujar dokter yang akrab disapa Ning via laman Instagramnya, Jumat (4/6).

Bila termasuk kategori gejala ringan, dr. Ning menyarankan untuk focus memperkuat sistem imun. Tidak perlu obat-obatan khusus.

“Konsultasi ke dokter untuk mendapatkan obat. Jangan mengobati sendiri. Apalagi, berdasarkan broadcast WA yang tidak jelas sumbernya,” jelas dr. Ning.

Baca Juga : Indomaret Dan Pekerja Berakhir Damai, KSPI Puji Kemnaker

“Tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan terlalu banyak. Karena bisa menimbulkan gejalka lambung, yang diperberat oleh stress,” sambungnya.

Dr Ning menekankan, yang paling penting saat isolasi mandiri adalah memonitor gejala dan saturasi oksigen. Karena dalam perjalanannya, penyakit bisa memburuk dalam hitungan hari.

“Jangan ragu ke RS, bila terjadi perburukan gejala atau penurunan saturasi oksigen,” katanya.
 Selanjutnya