Dark/Light Mode

Pemkot Bikin Satgas Untuk Edukasi Masyarakat

5.200 Warga Jaksel Kena Penyakit TBC

Minggu, 13 Maret 2022 08:00 WIB
Ilustrasi penyakit TBC (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi penyakit TBC (Foto: Shutterstock)

 Sebelumnya 
Kasus TBC di Indonesia diperkirakan sebanyak 824.000 kasus, menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia setelah India dan China.

Melansir laman Kemenkes, data TBC di Indonesia tahun 2020 menunjukkan sebagian besar kasus atau 67 persen terjadi di usia produktif (15-54 persen) dan 9 persen usia anak kurang dari 15 tahun terkena TBC.

Mengacu pada World Health Organization (WHO) Global TB Report tahun 2020, sebanyak 10 juta orang di dunia menderita TBC dan menyebabkan 1,2 juta orang meninggal setiap tahunnya.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia dengan perkiraan jumlah orang yang jatuh sakit akibat infeksi ini mencapai 845.000 dengan angka kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian per jam.

Baca juga : Ratas PPKM, Wamenkes Ajak Masyarakat Segera Vaksinasi Booster

Manajer Program Tuberkulosis Nasional, dr. Imran Pambudi menyebut, tidak semua penderita TBC ditemukan atau mendatangi fasilitas kesehatan (faskes) untuk berobat. Jumlahnya mencapai r 70 persen.

“Selama mereka tidak ditemukan, mereka akan tidak bisa diobati. Dan selama tidak bisa diobati, karena ini adalah penyakit menular, mereka akan menularkan ke orang lain,” jelasnya.

Dia menjelaskan, penularan TBC melalui droplet atau percikan ludah yang masuk dalam ke dalam paru-paru kemudian berkembang di tubuh dan menyebar ke seluruh organ yang ada darahnya.

“Kecuali dua, di kuku dan di rambut, yang memang tidak ada darah,” terangnya.

Baca juga : Penuhi Kebutuhan Masyarakat, Sinar Mas Kerek Produksi Migor

Imran mengingatkan, TBC bisa menginfeksi kepada siapa saja. Sebab selama ini, TBC itu diidentikkan dengan orang susah dan miskin. “Semua golongan, semua strata, itu bisa kena. Dia (TBC) tidak memperdulikan umur, golongan ekonomi,” ujarnya.

Duta Stop Tuberkulosis Indonesia, dr. Tirta Mandira Hudhi meminta, masyarakat tidak anggap remeh TBC. Karena, penyembuhannya membutuhkan perhatian khusus. Dia mengaku, kena TBC saat umur 8 tahun.

“Meski sudah berobat dan rutin minum obat, saya sempat gagal. Saya sampai setahun dan itu menimbulkan sekuel yang lumayan parah sampai sekarang,” katanya.

Dia menilai, sekarang orang lebih takut Covid daripada TBC. Padahal dua-dunya sama-sama mematikan.

Baca juga : Petugas Sudin Gulkarmat Evakuasi Tiga Ular Di Halaman Rumah Warga Di Jaktim

“Bedanya Covid matinya lebih cepat, TBC perlahan,” ucapnya.

Dia meminta, Pemerintah dan tenaga kesehatan memberi edukasi yang tepat kepada masyarakat.

“Jadi terangkan apa itu TBC dan cara melawannya bagimana. Terangkan dengan cara yang mudah dicerna masyarakat, jangan membuat hal simpel jadi ruwet,” pesannya.

Sebab, lanjutnya, penjelasan yang ruwet membuat masyarakat mencari informasi di internet. Dan, yang muncul justru informasi tentang efek samping yang menakutkan sehingga mereka tak mau ke faskes. [DRS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.