Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Polusi Udara Jakarta Bukan Hanya Karena PLTU

Jumat, 15 September 2023 10:09 WIB
Kondisi udara berpolusi di Ibu Kota Jakarta. (Foto: Istimewa)
Kondisi udara berpolusi di Ibu Kota Jakarta. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lead Analyst Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) Lauri Myllyvirta memastikan bahwa sumber polutan yang menyebabkan memburuknya kualitas udara di Indonesia bukan hanya berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) saja.

"Sumber polutan bukan hanya dari PLTU, ada sektor lain seperti transportasi dan industri lainnya," kata Lauri dalam keterangan resminya, Jumat (15/9).

Pernyataan Lauri itu sesuai dengan data yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Saat ini, polusi udara di Jakarta merupakan emisi dari kendaraan bermotor.

Data KLHK menyebutkan tidak kurang dari 44 persen polusi udara disumbang dari emisi kendaraan bermotor, disusul industri 31 persen, manufaktur 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen.

Lauri meminta kepada Pemerintah untuk mencari solusi yang komprehensif memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

Baca juga : Polusi Udara Jakarta Pagi Ini Kembali Memburuk, Masuk Zona Merah Ranking 3 Dunia

"Agar udara Jakarta bersih, solusi tidak boleh fokus pada satu sektor saja. Penyelesaian secara menyeluruh harus ada pada beberapa sektor," ujarnya.

Menurutnya, ada banyak sektor yang menjadi penyumbang polutan di Jakarta. "Ada transportasi dan kebakaran hutan. PLTU hanya satu dari sekian banyak sektor penyumbang polutan di Jakarta," jelasnya.

Sementara itu, total emisi karbon dari kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e menyusul tingginya jumlah penggunaan. Angka tersebut disampaikan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef Abra Talattov mengatakan, dengan rata-rata konsumsi BBM di Jakarta untuk motor sebesar 0,92 liter per hari dan mobil 3,9 liter per hari, maka total konsumsi BBM di Jakarta bisa mencapai 17,8 juta liter per hari untuk seluruh populasi motor dan 16,2 juta liter per hari untuk seluruh populasi mobil.

"Apabila jumlah emisi karbon 1 liter BBM setara dengan 2,4 kg CO2e. Artinya, estimasi total emisi yang dihasilkan dari total populasi sepeda motor dan mobil penumpang di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e," ungkapnya.

Baca juga : Kualitas Udara Dan Harga Beras

Masalahnya, kata Abra, dalam lima tahun terakhir populasi mobil penumpang di Jakarta mengalami peningkatan hingga 15,5 persen menjadi 4,13 juta kendaraan. Sementara populasi sepeda motor meningkat hngga 27,8 persen menjadi 19,22 juta kendaraan.

"Menyadari besarnya emisi karbon yang dihasilkan kendaraan berbasis fosil tersebut sudah mestinya menjadi momentum transformasi menuju ekosistem transportasi yang bersih," ujarnya.

Pengamat kebijakan publik sekaligus anggota Dewan Proper KLHK Agus Pambagio menduga ada pihak tertentu yang menunggangi isu polusi udara di Jakarta untuk memojokkan PLTU.

Padahal, kata Agus, kualitas udara tidak kunjung membaik, meskipun 4 unit PLTU Suralaya sebesar 1.600 MW dalam posisi mati untuk voluntary shutdown.

Menurutnya, publik jangan salah menilai atau bahkan memberikan justifikasi kepada PLTU yang beroperasi di sekitar Jakarta, termasuk PLTU Suralaya.

Baca juga : BPJamsostek Jakarta Menara Berikan Perlindungan Bagi Para Petarung JBO

"Mau semua PLTU dalam posisi shutdown pun, kualitas udara di Jakarta ya tetap buruk," kata Agus.

Dia menambahkan, saat ini polusi udara di Jakarta merupakan emisi dari kendaraan bermotor. Data menyebutkan, tidak kurang dari 44 persen polusi udara disumbang dari emisi kendaraan. "KLHK sudah memaparkan data itu," ujarnya.

Sejauh ini, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK Luckmi Purwandari mengatakan, sistem Continuous Emissions Monitoring System (CEMS) dari PLTU sudah terhubung dengan Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK) milik KLHK.

SISPEK adalah suatu sistem yang menerima dan mengelola data hasil pemantauan emisi cerobong industri, yang dilakukan dengan pengukuran secara terus menerus atau CEMS. Terdapat 10 sektor industri yang wajib SISPEK, yaitu peleburan besi dan baja, pulp & kertas, rayon, carbon black, migas, pertambangan, pengolahan sampah secara termal, semen, pembangkit listrik tenaga termal, pupuk, dan amonium nitrat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.