Dark/Light Mode

Politisi Kebon Sirih Resmi Bentuk Pansus

2030, Jakarta Ditargetkan Keluar Dari Krisis Sampah

Rabu, 15 April 2026 06:25 WIB
TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Dok. Dinas LH DKI Jakarta)
TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Dok. Dinas LH DKI Jakarta)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masalah sampah di Jakarta makin mengerikan. Beban volumenya sudah mencapai lebih dari 7.000 ton per hari. Untuk mengatasinya, politisi Kebon Sirih membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk menyusun rekomendasi konkret guna membenahi sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Pansus resmi menetapkan pimpinan dalam rapat di Ruang Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Rabu (8/4/2026). 

Judistira Hermawan didapuk sebagai Ketua, didampingi Husen sebagai Wakil Ketua. Judistira menegaskan, pembentukan Pansus ini bukan sekadar formalitas. Pihaknya akan tancap gas menyusun rekomendasi konkret untuk Gubernur DKI Jakarta, guna membenahi sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. 

“Tekanan terhadap Bantargebang semakin besar. Perlu langkah serius. Mulai dari pengurangan di sumber, peningkatan daur ulang, hingga pembangunan fasilitas pengolahan modern,” tegas politisi Golkar itu. 

Baca juga : Bayern Munchen Vs Real Madrid, Pemenang Paling Pede

Judistira menyoroti kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang sudah makin sesak. 

Ketergantungan Jakarta terhadap Bantargebang, kata dia, tak bisa terus dibiarkan. “Bantargebang sudah overload. Tidak bisa lagi terus menerima sampah dari Jakarta,” sambungnya. 

Dia menargetkan, melalui kerja Pansus, Jakarta bisa keluar dari krisis sampah dalam beberapa tahun ke depan. “Paling tidak, tahun 2030, Jakarta bersih dari sampah,” ujarnya, optimistis. 

Menurutnya, Pansus akan membedah seluruh aspek pengelolaan sampah, termasuk melibatkan berbagai pihak terkait. 

Baca juga : Rookie Of The Year 2025 Moto2, Daniel Holgado Dijagokan Masuk Kelas Utama

Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara DPRD dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI tanpa saling menyalahkan. “Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi soal keberlanjutan kota,” tandasnya. 

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menekankan pentingnya pengurangan sampah dari sumber. 

Kepala Dinas LH DKI Asep Kuswanto mengatakan, semakin banyak sampah dipilah sejak awal, maka beban TPST Bantargebang akan semakin ringan. “Pengurangan sampah di sumber merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang,” ujar Asep. 

Dia menjelaskan, langkah sederhana seperti memilah sampah menjadi organik, daur ulang, residu, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) bisa berdampak besar. 

Baca juga : PBB: Krisis Kemanusiaan Di Gaza Makin Memburuk

Selain itu, pengomposan sampah makanan dan pemanfaatan ulang barang, juga dinilai efektif menekan volume sampah. 

Pemprov DKI, lanjutnya, ju ga terus memperkuat sistem pengolahan melalui teknologi. Salah satunya pembangunan Refused Derived Fuell (RDF) Plant Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif industri semen. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.